Sabtu, 07 November 2015

Stratifikasi Sosial


Oleh :
Reni Qonitah Putri
(19614060)
2SA10

  1. Pengertian Stratifikasi Sosial
Dalam ilmu sosiologi pelapisan sosial dalam masyarakat lebih dikenal dengan istilah stratifikasi sosial. Kata stratifikasi sosial berasal dari bahasa latin, yakni stratum yang berarti tingkatan dan socius yang berarti teman atau masyarakat. Secara harfiah stratifikasi sosial berarti tingkatan yang ada dalam masyarakat. Berikut ini pendapat para ahli mengenai pengertian pelapisan sosial.
1)  Menurut Pitirim A. Sorokin (1959), bahwa social stratification is permanent characteristic of any organized social group, yang artinya stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap pada setiap kelompok sosial yang teratur. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa stratifikasi sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.
2)  Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (1999), stratifikasi sosial berarti sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat.
3)     Robert M.Z. Lawang, stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese, dan prestise.
4)   Bruce J. Cohen, stratifikasi sosial adalah sistem yang menempatkan seseorang sesuai dengan kualitas yang dimiliki dan menempatkan mereka pada kelas sosial yang sesuai.
5) Astried S. Susanto, stratifikasi sosial adalah hasil kebiasaan hubungan antarmanusia secara teratur dan tersusun sehingga setiap orang, setiap saat mempunyai situasi yang menentukan hubungannya dengan orang secara vertical maupun horizontal dalam masyarakatnya.

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah.

  2.  Macam Stratifikasi Sosial
Dilihat dari sifatnya, stratifikasi sosial dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu bersifat tertutup, bersifat terbuka, dan bersifat campuran (tertutup dan terbuka).
1)      Stratifikasi Sosial Tertutup


Stratifikasi sosial tertutup (closed social stratification) membatasi kemungkinan seseorang untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik lapisan atas maupun lapisan bawah. Di dalam sistem pelapisan yang demikian satu-satunya jalan untuk masuk menjadi anggota atau warga suatu lapisan tertentu hanyalah melalui kelahiran. Sebagai contoh adalah pelapisan pada masyarakat berkasta, pada masyarakat dengan sistem feodal, atau pada masyarakat yang masih menggunakan kriteria ras (penggolongan manusia atas dasar ciri-ciri tubuh yang nampak dari luar) sebagai dasar pelapisan sosialnya.

2)      Stratifikasi Sosial Terbuka


Pada sistem stratifikasi sosial terbuka (opened social stratification), setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke pelapisan sosial yang lebih tinggi karena kemampuan dan kecakapannya sendiri, atau turun ke pelapisan sosial yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap dan tidak beruntung. Pada umumnya jenis pelapisan sosial yang terbuka lebih banyak memberikan rangsangan untuk maju dan berkembang kepada setiap anggota masyarakatnya.
Pada stratifikasi sosial terbuka terdapat kemungkinan yang lebih besar untuk mengadakan mobilitas sosial (vertikal atau horizontal).

3)      Stratifikasi Sosial Campuran


Dalam kenyataan sehari-hari pelapisan sosial dalam msyarakat tidak selalu hanya bersifat tertutup dan terbuka, melainkan juga bersifat campuran antara keduanya, artinya ada kemungkinan di dalam suatu masyarakat terdapat unsur-unsur dari gabungan kedua sifat pelapisan sosial. Misalnya, dalam bidang ekonomi menggunakan pelapisan sosial yang bersifat terbuka, sedangkan pada bidang lain seperti penggunaan kasta bersifat tertutup.

  3. Negara, Suku, atau Tempat (Masa Lampau atau Sekarang) yang Menganut Sistem Stratifikasi Sosial
1)      Stratifikasi Sosial Tertutup
Masyarakat India adalah salah satu contoh masyarakat yang menganut sistem stratifikasi sosial yang bersifat tertutup. Berikut beberapa ciri masyarakat India.
a) Keanggotaannya diperoleh melalui warisan dan kelahiran sehingga seseorang secara otomatis dan dengan sendirinya memiliki kedudukan seperti yang dimiiki oleh orang tuanya.
b)    Keanggotaannya berlaku seumur hidup. Oleh karena itu, seseorang tidak mungkin mengubah kedudukannya, kecuali apabila ia dikeluarkan atau dikucilkan dari kastanya.
c)    Perkawinan bersifat endogami, artinya seseorang hanya dapat bersuami atau beristri dari orang sekasta.
d)   Hubungan dengan kelompok-kelompok sosial (kasta) lain sangat terbatas.
e)  Kesadaran dan kesatuan suatu kasta, identifikasi anggota kepada kastanya, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kasta, dan sebagainya.
f)     Kasta terikat oleh kedudukan yang secara tradisional telah ditentukan.
g)    Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan.

2)      Stratifikasi Sosial Terbuka
Masyarakat di negara industri maju atau masyarakat pertanian yang telah mengalami gelombang modernisasi adalah contoh masyarakat yang menganut sistem pelapisan sosial terbuka.

3)      Stratifikasi Sosial Campuran
Kehidupan masyarakat Bali, walaupun secara budaya masyarakatnya terbagi dalam empat kasta yakni Brahmana, Satria, Waisya, dan Sudra (Koentjaraningrat 1992 : 196), tetapi secara ekonomi sistem pelapisan sosial lebih bersifat terbuka karena setiap orang tanpa memandang kelas atau kastanya dapat mencapai kedudukan yang lebih tinggi berdasarkan kemampuan dan kecakapannya masing-masing. Jadi dapat saja seorang dari kalangan Sudra menjadi pengusaha sukses dan terpandang dalam masyarakat bila ia memiliki kemampuan berdagang yang baik.


DAFTAR PUSTAKA

Sosiologi, Tim. 2007. Sosiologi: Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat, Edisi revisi. Jakarta:  Yudhistira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar