Minggu, 22 November 2015

Kesenjangan Masyarakat Desa dan Kota

Oleh :
Reni Qonitah Putri
(19614060)
2SA10

Desa dan kota bukanlah dua daerah yang terpisah satu sama lain, bahkan dapat dikatakan keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Tidak hanya itu, desa dan kota juga memiliki hubungan yang sangat erat, bersifat ketergantungan yang artinya saling membutuhkan satu sama lain dalam berbagai hal, contohnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kota membutuhkan desa untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan, seperti beras, sayur mayur, kebutuhan hewan ternak, kebutuhan pekerja kasar untuk membangun sebuah bangunan, dan lainnya. Begitu juga sebaliknya, desa membutuhkan kota untuk memenuhi beberapa barang atau tenaga pelayanan yang dibutuhkan oleh desa, seperti listrik, baju, perawatan medis, obat-obatan, dan lainnya.
Untuk membangun dan memajukan sebuah negara tidaklah mudah, dibutuhkan banyak upaya dan usaha agar sebuah negara bisa bangkit dan menjadi maju, salah satunya adalah dengan cara menyejahterakan rakyatnya. Rakyat yang dimaksud dalam kalimat menyejahterakan rakyatnya adalah semua rakyat tanpa terkecuali, yaitu bukan hanya untuk rakyat pada kelas menengah dan atas saja, tetapi untuk kalangan bawah juga, atau bisa dikatakan penyejahteraan rakyat secara merata. Dengan begitu, sebuah negara akan dapat dikatakan sebagai negara maju karena tidak adanya warga negara yang miskin atau sengsara.
Indonesia adalah salah satu negara yang masih terlihat ada banyak kesenjangan yang terjadi pada masyarakat desa dan kota. Yang lebih menyedihkan lagi, kesenjangan tersebut dapat dengan jelas terasa dan terlihat oleh masyarakat awam. Berikut adalah beberapa contoh kesenjangan yang terjadi antara masyarakat desa dan kota yang ada di Indonesia:
1)      Pendidikan
Pendidikan adalah salah satu hal yang sangat mencolok kesenjangannya antara desa  dan kota. Masyarakat desa dan kota mendapatkan pendidikan yang sangat amat berbeda. Dapat dilihat pada masyarakat pedalaman. Kurikulum maupun metode mengajar yang didapat keduanya berbeda. Ada banyak alasan kenapa hal tersebut dapat terjadi. Untuk metode mengajar, hal tersebut terjadi karena kapasitas pengetahuan atara masyarakat desa dan kota dapat dikatakan jauh berbeda, dapat dilihat pada orang tua dari anak yang bersekolah, banyak dari mereka yang memiliki orang tua yang juga memiliki pendidikan yang rendah, sehingga pada dasarnya mereka  belum mendapat wawasan lebih mengenai pelajaran sekolah yang sifatnya formal, juga lebih luas dan mereka disekolahkan untuk dapat memiliki wawasan tersebut sehingga mereka akan menjadi lebih baik daripada orang tuanya. Tetapi banyak dari masyarakat desa yang tidak mau menyekolahkan anaknya. Banyak dari mereka berpikir hal tersebut akan sia-sia karena mereka hanya akan hidup di desa sebagai petani atau pekerja desa lainnya. Hal tersebut dangat disayangkan karena mereka telah menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadikan diri dan keluarganya untuk menjadi yang lebih baik, contohnya dalam bidang ekonomi pada masa depan. Mereka belum mengerti arti pentingnya pendidikan, padahal jika mereka memiliki pendidikan yang tinggi, otomatis mereka akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Sama halnya dengan perbedaan kurikulum, hal ini juga disebabkan oleh pengetahuan masyarakatnya dan juga pengajar serta fasilitas pendukung seperti buku masih sulit untuk didapatkan. Contohnya pada buku, buku-buku yang akan digunakan untuk belajar para siswa seringkali tidak datang dengan tepat waktu dan bahkan sering kali siswa pedesaan tidak mendapat buku sehingga sulit untuk belajar, hal ini sering terjadi karena sulitnya akses untuk mengirim buku-buku tersebut sampai pedesaan. Berbeda dengan siswa yang bersekolah di kota, tentu mereka akan mendapat buku-buku pelajaran dengan mudah dan tepat waktu karena mudahnya akses untuk mengirimkannya. Jikalau mereka belum mendapatkan buku, maka dengan mudah mereka dapat mengakses internet. Tentu hal ini sangat berbeda bukan dengan siswa di desa? Jangankan untuk mengakses sesuatu di internet, untuk mendapatkan listrik saja masih sulit.
2)      Ekonomi
Pada umumnya kegiatan perekonomian di perdesaan adalah pertanian atau usaha rakyat skala mikro kecil yang dikelola secara tradisional dengan memanfaatkan sumber daya pertanian atau sumber daya alam lainnya yang ada di desa, maka pendapatannyapun tidak besar, hanya dapat menghidupi biaya keluarganya sehari-hari atau bahkan banyak diantara mereka yang masih sangat kekurangan. Berbeda dengan masyarakat kota, ada banyak jenis pekerjaan dengan gaji atau penghasilan yang pasti sangat berbeda dengan penghasilan masyarakat desa. Seperti yang telah saya katakan bahwa pendidikan akan mempengaruhi perekonomian seseorang. Tentu banyak dari masyarakat kota akan memiliki perekonomian yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat desa karena penghasilan masyarakat desa dan kota sangat berbeda, lagipula masih banyak masyarakat desa yang belum sadar akan pentingnya pendidikan, banyak dari mereka yang tidak sekolah atau hanya memiliki pendidikan yang rendah sehingga mereka sulit untuk memiliki pekerjaan yang layak dengan gaji yang besar. Kalaupun mereka memilihi pendidikan yang tinggi seperti S1, pekerjaan yang mereka dapat di desa hanyalah sebagai guru. Akan berbeda jika mereka bekerja di kota, lulusan S1 akan mempunyai banyak peluang untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi daripada di desa.
3)      Kesehatan
Pemerataan rumah sakit masih sangat buruk untuk wilayah pedesaan. Jangankan untuk rumah sakit, puskesmas saja masih sangat jarang. Diperlukan perjalanan beberapa jam untuk datang ke sebuah puskesmas bagi masyarakat desa. Maka masih banyak dari mereka yang lebih memilih untuk pergi ke dukun daripada datang ke puskesmas atau rumah sakit. Selain jaraknya yang jauh, biaya juga menjadi kendala yang besar bagi masyarakat desa. Kembali lagi pada faktor ekonomi. Berbeda dengan masyarakat kota, mereka dapat mengakses rumah sakit dengan mudah. Ada banyak rumah sakit di kota. Tidak terhitung berapa jumlah rumah sakit yang ada disebuah kota.

Ada banyak hal yang mempengaruhi kenapa kesenjangan tersebut bisa terjadi, diantaranya:
1)   Kurangnya kesadaran masyarakat kota dan desa dalam pentingnya simbiosis mutualisme, yaitu saling menguntungkan.
2) Semua modal usaha di segala sektor ditanam diperkotaan dan keuntungannyapun tidak dibagi rata dengan pedesaan sehingga masyarakat desa merugi dan tidak maju.
3)      Sumber daya manusia rendah dan kurang merata.
4)  Kurangnya perhatian pemerintah dalam pemerataan di segala sektor untuk membuat keduanya menjadi maju.
5)    Lemahnya dukungan terhadap sektor pertanian ditambah dengan tekanan hidup desa yang tinggi mengakibatkan semakin tertekannya petani di pedesaan.
6) Sosial ekonomi rumah tangga atau masyarakat, khususnya kesenjangan pendapatan antara rumah tangga di perkotaan dan di perdesaan.
7)   Struktur kegiatan ekonomi sektoral yang menjadi dasar kegiatan produksi rumah tangga atau masyarakat, khususnya pada sektor-sektor ekonomi yang menjadi basis ekspor dengan orientasi pasar dalam negeri (domestik).
8) Potensi regional (SDA, SDM, Dana, Lingkungan dan infrastruktur) yang mempengaruhi perkembangan struktur kegiatan produksi. Pada daerah-daerah yang beruntung memiliki sumberdaya berbasis ekspor, maka daerah-daerah ini secara relatif lebih makmur dibandingkan dengan daerah-daerah yang tidak memiliki sumberdaya yang dapat dipasarkan keluar.
9)   Kondisi kelembagaan yang membentuk jaringan kerja produksi dan pemasaran pada skala lokal, regional dan global. Adanya kerangka kelembagaan yang kokoh akan sangat mempengaruhi posisi tawar-menawar dengan pihak pemasok maupun pihak pembeli (Bintoro, 2002).

Berikut adalah beberapa cara mengatasi kesenjangan yang terjadi antara masyarakat desa dan kota:
1)  Pemerataan sektor pendidikan, perekonomian, industri, kesehatan di desa dan kota.
2)    Alokasi khusus APBN untuk pedesaan guna memajukan masyarakat desa.
3)  Pemerintah perlu pula memperkuat aspek pemantauan dalam pelaksanaan dan penggunaan dana, agar potensi penyelewengan dan penyimpangan dapat dihindari
4) Meningkatkan aksesibilitas masyarakat perdesaan dalam rangka percepatan ekonomi kerakyatan melalui penataan ruang di kawasan perdesaan (kawasan agropolitan, kawasan terpilih pusat pengembangan desa).
5)  Peningkatan perwujudan pembangunan fisik dan infrastruktur/ prasarana (jalan akses, jalan tani, jalan lingkungan) di perdesaan. 
6) Penanganan permasalahan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat (rumah layak huni, air bersih, dan sanitasi), terutama pada simpul strategis di perdesaan.
7)   Meluncurkan Indeks Desa Membangun.


DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar