Oleh :
Reni
Qonitah Putri
(19614060)
2SA10
Desa
dan kota bukanlah dua daerah yang terpisah satu sama lain, bahkan dapat
dikatakan keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Tidak hanya itu, desa
dan kota juga memiliki hubungan yang sangat erat, bersifat ketergantungan yang
artinya saling membutuhkan satu sama lain dalam berbagai hal, contohnya untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kota membutuhkan desa untuk memenuhi kebutuhan
bahan pangan, seperti beras, sayur mayur, kebutuhan hewan ternak, kebutuhan pekerja
kasar untuk membangun sebuah bangunan, dan lainnya. Begitu juga sebaliknya, desa
membutuhkan kota untuk memenuhi beberapa barang atau tenaga pelayanan yang dibutuhkan
oleh desa, seperti listrik, baju, perawatan medis, obat-obatan, dan lainnya.
Untuk
membangun dan memajukan sebuah negara tidaklah mudah, dibutuhkan banyak upaya
dan usaha agar sebuah negara bisa bangkit dan menjadi maju, salah satunya
adalah dengan cara menyejahterakan rakyatnya. Rakyat yang dimaksud dalam
kalimat menyejahterakan rakyatnya adalah semua rakyat tanpa terkecuali, yaitu bukan
hanya untuk rakyat pada kelas menengah dan atas saja, tetapi untuk kalangan
bawah juga, atau bisa dikatakan penyejahteraan rakyat secara merata. Dengan begitu,
sebuah negara akan dapat dikatakan sebagai negara maju karena tidak adanya
warga negara yang miskin atau sengsara.
Indonesia
adalah salah satu negara yang masih terlihat ada banyak kesenjangan yang
terjadi pada masyarakat desa dan kota. Yang lebih menyedihkan lagi, kesenjangan
tersebut dapat dengan jelas terasa dan terlihat oleh masyarakat awam. Berikut adalah
beberapa contoh kesenjangan yang terjadi antara masyarakat desa dan kota yang
ada di Indonesia:
1)
Pendidikan
Pendidikan adalah
salah satu hal yang sangat mencolok kesenjangannya antara desa dan kota. Masyarakat desa dan kota
mendapatkan pendidikan yang sangat amat berbeda. Dapat dilihat pada masyarakat
pedalaman. Kurikulum maupun metode mengajar yang didapat keduanya berbeda. Ada banyak
alasan kenapa hal tersebut dapat terjadi. Untuk metode mengajar, hal tersebut terjadi
karena kapasitas pengetahuan atara masyarakat desa dan kota dapat dikatakan
jauh berbeda, dapat dilihat pada orang tua dari anak yang bersekolah, banyak
dari mereka yang memiliki orang tua yang juga memiliki pendidikan yang rendah,
sehingga pada dasarnya mereka belum
mendapat wawasan lebih mengenai pelajaran sekolah yang sifatnya formal, juga
lebih luas dan mereka disekolahkan untuk dapat memiliki wawasan tersebut
sehingga mereka akan menjadi lebih baik daripada orang tuanya. Tetapi banyak
dari masyarakat desa yang tidak mau menyekolahkan anaknya. Banyak dari mereka
berpikir hal tersebut akan sia-sia karena mereka hanya akan hidup di desa
sebagai petani atau pekerja desa lainnya. Hal tersebut dangat disayangkan
karena mereka telah menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadikan diri dan
keluarganya untuk menjadi yang lebih baik, contohnya dalam bidang ekonomi pada
masa depan. Mereka belum mengerti arti pentingnya pendidikan, padahal jika
mereka memiliki pendidikan yang tinggi, otomatis mereka akan mendapatkan
pekerjaan yang layak. Sama halnya dengan perbedaan kurikulum, hal ini juga
disebabkan oleh pengetahuan masyarakatnya dan juga pengajar serta fasilitas
pendukung seperti buku masih sulit untuk didapatkan. Contohnya pada buku,
buku-buku yang akan digunakan untuk belajar para siswa seringkali tidak datang
dengan tepat waktu dan bahkan sering kali siswa pedesaan tidak mendapat buku
sehingga sulit untuk belajar, hal ini sering terjadi karena sulitnya akses
untuk mengirim buku-buku tersebut sampai pedesaan. Berbeda dengan siswa yang
bersekolah di kota, tentu mereka akan mendapat buku-buku pelajaran dengan mudah
dan tepat waktu karena mudahnya akses untuk mengirimkannya. Jikalau mereka
belum mendapatkan buku, maka dengan mudah mereka dapat mengakses internet. Tentu
hal ini sangat berbeda bukan dengan siswa di desa? Jangankan untuk mengakses
sesuatu di internet, untuk mendapatkan listrik saja masih sulit.
2)
Ekonomi
Pada umumnya kegiatan
perekonomian di perdesaan adalah pertanian atau usaha rakyat skala mikro kecil
yang dikelola secara tradisional dengan memanfaatkan sumber daya pertanian atau
sumber daya alam lainnya yang ada di desa, maka pendapatannyapun tidak besar,
hanya dapat menghidupi biaya keluarganya sehari-hari atau bahkan banyak
diantara mereka yang masih sangat kekurangan. Berbeda dengan masyarakat kota,
ada banyak jenis pekerjaan dengan gaji atau penghasilan yang pasti sangat
berbeda dengan penghasilan masyarakat desa. Seperti yang telah saya katakan
bahwa pendidikan akan mempengaruhi perekonomian seseorang. Tentu banyak dari
masyarakat kota akan memiliki perekonomian yang lebih tinggi dibandingkan
dengan masyarakat desa karena penghasilan masyarakat desa dan kota sangat
berbeda, lagipula masih banyak masyarakat desa yang belum sadar akan pentingnya
pendidikan, banyak dari mereka yang tidak sekolah atau hanya memiliki
pendidikan yang rendah sehingga mereka sulit untuk memiliki pekerjaan yang
layak dengan gaji yang besar. Kalaupun mereka memilihi pendidikan yang tinggi
seperti S1, pekerjaan yang mereka dapat di desa hanyalah sebagai guru. Akan berbeda
jika mereka bekerja di kota, lulusan S1 akan mempunyai banyak peluang untuk
mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi daripada di desa.
3)
Kesehatan
Pemerataan rumah sakit masih
sangat buruk untuk wilayah pedesaan. Jangankan untuk rumah sakit, puskesmas
saja masih sangat jarang. Diperlukan perjalanan beberapa jam untuk datang ke
sebuah puskesmas bagi masyarakat desa. Maka masih banyak dari mereka yang lebih
memilih untuk pergi ke dukun daripada datang ke puskesmas atau rumah sakit. Selain
jaraknya yang jauh, biaya juga menjadi kendala yang besar bagi masyarakat desa.
Kembali lagi pada faktor ekonomi. Berbeda dengan masyarakat kota, mereka dapat
mengakses rumah sakit dengan mudah. Ada banyak rumah sakit di kota. Tidak
terhitung berapa jumlah rumah sakit yang ada disebuah kota.
Ada
banyak hal yang mempengaruhi kenapa kesenjangan tersebut bisa terjadi,
diantaranya:
1) Kurangnya
kesadaran masyarakat kota dan desa dalam pentingnya simbiosis mutualisme, yaitu
saling menguntungkan.
2) Semua
modal usaha di segala sektor ditanam diperkotaan dan keuntungannyapun tidak
dibagi rata dengan pedesaan sehingga masyarakat desa merugi dan tidak maju.
3)
Sumber
daya manusia rendah dan kurang merata.
4) Kurangnya
perhatian pemerintah dalam pemerataan di segala sektor untuk membuat keduanya
menjadi maju.
5) Lemahnya
dukungan terhadap sektor pertanian ditambah dengan tekanan hidup desa yang
tinggi mengakibatkan semakin tertekannya petani di pedesaan.
6) Sosial ekonomi rumah tangga atau
masyarakat, khususnya kesenjangan pendapatan antara rumah tangga di perkotaan
dan di perdesaan.
7) Struktur kegiatan ekonomi sektoral
yang menjadi dasar kegiatan produksi rumah tangga atau masyarakat, khususnya
pada sektor-sektor ekonomi yang menjadi basis ekspor dengan orientasi pasar
dalam negeri (domestik).
8) Potensi regional (SDA, SDM, Dana,
Lingkungan dan infrastruktur) yang mempengaruhi perkembangan struktur kegiatan
produksi. Pada daerah-daerah yang beruntung memiliki sumberdaya berbasis
ekspor, maka daerah-daerah ini secara relatif lebih makmur dibandingkan dengan
daerah-daerah yang tidak memiliki sumberdaya yang dapat dipasarkan keluar.
9) Kondisi
kelembagaan yang membentuk jaringan kerja produksi dan pemasaran pada skala
lokal, regional dan global. Adanya kerangka kelembagaan yang kokoh akan sangat
mempengaruhi posisi tawar-menawar dengan pihak pemasok maupun pihak pembeli
(Bintoro, 2002).
Berikut
adalah beberapa cara mengatasi kesenjangan yang terjadi antara masyarakat desa
dan kota:
1) Pemerataan
sektor pendidikan, perekonomian, industri, kesehatan di desa dan kota.
2) Alokasi
khusus APBN untuk pedesaan guna memajukan masyarakat desa.
3) Pemerintah
perlu pula memperkuat aspek pemantauan dalam pelaksanaan dan penggunaan dana,
agar potensi penyelewengan dan penyimpangan dapat dihindari
4) Meningkatkan aksesibilitas masyarakat perdesaan dalam rangka
percepatan ekonomi kerakyatan melalui penataan ruang di kawasan perdesaan
(kawasan agropolitan, kawasan terpilih pusat pengembangan desa).
5) Peningkatan
perwujudan pembangunan fisik dan infrastruktur/ prasarana (jalan akses, jalan
tani, jalan lingkungan) di perdesaan.
6) Penanganan permasalahan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat
(rumah layak huni, air bersih, dan sanitasi), terutama pada simpul strategis di
perdesaan.
7) Meluncurkan
Indeks Desa Membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar