Minggu, 11 Oktober 2015

Individu, Keluarga, dan Masyarakat

Oleh :

Reni Qonitah Putri
(19614060)
2SA10


1.       Pertumbuhan Individu
1)      Pengertian Individu
Individu adalah sebutan untuk menyatakan suatu hal yang terkecil. Menurut pendapat Dr. A. Lysen, kata individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagi manusia perseorangan.
Pada umumnya manusia lahir ke muka bumi seorang diri. Manusia adalah makhluk yang unik, selain ditakdirkan sebagai makhluk pribadi atau individu, manusia juga termasuk sebagai makhluk sosial.
Tingkah laku manusia sebagai makhluk individu berbeda dengan tingkah laku manusia sebagai makhluk sosial. Tingkah laku manusia sebagai makhluk pribadi atau individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Sedangkan tingkah laku manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, mereka perlu bantuan serta kerja sama dengan orang lain dan berusaha mencukupi semua kebutuhannya untuk kelangsungan hidupnya. Bila dibandingkan dengan makhluk lain seperti hewan, manusia tidak bisa hidup seorang diri, manusia selalu membutuhkan manusia lain untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Di samping itu, manusia tidak dikaruniai Tuhan dengan kemampuan fisik yang cukup kuat untuk dapat hidup sendiri. Itulah sebabnya manusia hidup berkelompok.
Manusia perlu berhubungan/berinteraksi dengan orang lain sebagai makhluk sosial. Setiap individu ataupun kelompok sering kali memiliki kepentingan yang berbeda dengan individu atau kelompok lainnya. Dalam berhubungan dengan orang lain, terdapat ciri respirokal (timbal balik), hubungan tersebut bisa saling menguntungkan bahkan bisa merugikan, bergantung dari konteks hubungan tersebut.
Kecenderungan manusia untuk berkelompok (gregariousness) pada zaman dahulu sering dianggap suatu naluri yang diwariskan secara biologis. Kelompok-kelompok manusia tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi melalui sebuah proses.
Sebagai gambaran, keadaan seorang bayi sangat bergantung pada orang dewasa. Hal ini tampak dari reaksi-reaksi bayi yang ditunjukkan kepada orang dewasa. Seperti, senyuman, gerakan tangan, ataupun celotehan. Setelah bayi tumbuh menjadi seorang anak, maka ia mulai bisa diajak bermain. Minat anak terpusat pada alat permainan. Dari situlah anak mendapatkan kebahagiaan.
Selanjutnya, mulailah anak mengalami pengalaman-pengalaman yang lebih luas, menambah kesenangan dan penghiburan, berkumpul, bermain, serta bekerjasama dengan anak lain. dengan demikian, anak dapat melaksanakan dan menikmati hal-hal yang tidak pernah tercapai bila diusahakan sendiri.
Pergaulan dengan kawan lain menjadi suatu kebutuhan bagi seorang anak. Persahabatan dan penghargaan kawan akan menyenangkan, sebaliknya kritikan atau ejekan akan menekan jiwanya. Gambaran kehidupan anak tersebut menunjukkan pentingnya individu hidup berkelompok karena dengan berkelompok akan terpenuhi segala kebutuhannya.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya.

2)      Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Individu
Pertumbuhan (growth) sebenarnya merupakan sebuah istilah yang sering digunakan dalam biologi, sehingga pengertian lebih bersifat biologis. C.P. Chaplin, mengartikan pertumbuhan sebagai satu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran bagian-bagian tubuh dari organisme sebagai suatu keseluruhan. Menurut A.E. Sinolungan, pertumbuhan merujuk pada perubahan kuantitatif, seperti panjang, volume, atau berat. Sedangkan Ahmad Tanthowi, mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran, sebagai akibat dari adanya perbanyakan sel.
Jika dibandingkan dengan perkembangan yang berkenaan dengan aspek-asek psikis, maka pertumbuhan lebih banyak berkenaan dengan penyempurnaan struktur atau aspek-aspek jasmaniah yang menunjukkan perubahan secara kuantitas, yaitu penambahan ukuran besar, tinggi, ataupun berat.
Walaupun ada banyak perbedaan pendapat diantara para ahli, pertumbuhan dapat dikatakan sebagai suatu perubahan untuk menuju kearah yang lebih maju, lebih baik, ataupun lebih dewasa.
Ada tiga macam faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, diantaranya:
a.       Pendirian nativistik
Menurut para ahli, pendirian nativistik yaitu pertumbuhan individu yang ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir, seperti kemiripan antara orang tua dengan anaknya.
b.      Pendirian empiristik dan environmentalistik
Para ahli berpendapat tentang pendirian yang berlawanan dengan pendapat nativistik ini bahwa pertumbuhan individu bukan ditentukan oleh faktor dasar melainkan tergantung kepada lingkungan .
c.       Pendirian konvergensi dan interaksionisme
Pendirian yang terdiri atas gabungan dari pendirian nativistik lalu pendirian konvergensi dan interaksionisme ini dinyatakan bahwa interaksi antara dasar dan lingkungan dapat menentukan pertumbuhan individu.
Berdasarkan psikologi, ada beberapa tahap pertumbuhan individu, diantaranya:
a.       Masa vital, yaitu dari umur 0.0 tahun sampai kira-kira 2 tahun.
b.      Masa estetik, yaitu dari kira-kira umur 2 tahun sampai kira-kira umur 7 tahun.
c.       Masa intelektual, yaitu dari kira-kira umur 7 tahun sampai kira-kira umur 13 tahun atau 14 tahun.
d.      Masa sosial, yaitu dari kira-kira umur 13 tahun atau 14 tahun sampai kira-kira umur 20 tahun atau 21 tahun.
1)      Masa pra remaja
Masa yang berlangsung secara singkat ini disebut juga dengan masa negatif yang ditandai oleh sifat-sifat negatif, misalnya tidak tenang, kurang suka bekerja, kurang suka bergerak, lekas lelah, kebutuhan untuk tidur besar, hati sering murung, pesimistik, dan non sosial.
2)      Masa remaja
Pada masa ini proses terbentuknya pendirian atau cita-cita hidup dapat dipandang sebagai penemuan nilai-nilai hidup di dalam eksplorasi remaja.
3)      Masa usia mahasiswa
Masa usia mahasiswa ini berumur sekitar 18 tahun sampai 30 tahun. Mereka dapat dikelompokkan pada masa remaja akhir sampai dewasa awal.
Mahasiswa ini termasuk kedalam kelompok khusus dalam suatu masyarakat maka mereka mulai mempersiapkan diri untuk menerima tugas-tugas pimpinan dimasa mendatang. Oleh karena itu mereka mulai mempelajari berbagai aspek kehidupan.
Mahasiswa akan mengalami perubahan secara perlahan demi sikap hidup yang idealistik ke sikap hidup yang realistik. Dengan demikian keinginan-keinginan yang realistik dalam dirinya dan realitas dalam lingkungannya telah diganti dengan yang lebih berdasar kepada realistik. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa di kalangan mahasiswa tidak ada idealisme, justru pada  mahasiswa ini banyak terdapat idealisme tetapi idealisme yang realistik yaitu yang dapat diterapkan dalam tindakan.

2.       Keluarga
1)      Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam masyarakat. Jika dilihat berdasarkan klasifikasi kelompok dari kualitas hubungan antaranggota, keluarga termasuk dalam salah satu kelompok primer dimana hubungan antaranggotanya saling mengenal dan bersifat informal.
Keluarga inti (keluarga batih) terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya yang belum menikah. Keluarga inti memberikan sosialisasi dan perlindungan kepada anak-anak, dan mendidik mereka sampai mandiri.
Dari keluarga inti berkembang menjadi keluarga besar (extended family) atau disebut dengan kelompok kekerabatan. Dalam kelompok kekerabatan terdapat hubungan darah atau hubungan persaudaraan. Kelompok kekerabatan ini merupakan cikal bakal terbentuknya masyarakat.
Jadi, keluarga merupakan institusi penanaman nilai (sosialisasi) yang pertama serta utama kepada seseorang. Proses penanaman nilai ini bersifat terus-menerus sehingga seorang anak diharapkan dapat menjalankan perannya dengan baik dan benar dalam masyarakat.

2)      Fungsi Keluarga
Fungsi adalah pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Didalam sebuah keluarga juga tentu ada berbagai fungsi  yang harus dilakukan guna mencapai tujuan yang diinginkan oleh setiap anggota keluarga.
Jadi, fungsi keluarga adalah hal-hal yang harus dikerjakan atau dilaksanakan didalam sebuah keluarga ataupun dilaksanakan oleh seluruh anggota keluarga.

3)      Macam-Macam Fungsi Keluarga
a.       Fungsi biologis
Pada hakikatnya, setiap manusia mempunyai tuntutan biologis bagi kelangsungan hidup keturunannya dengan melalui perkawinan. Maka para orang tua perlu menanamkan berbagai macam pengetahuan kepada anak-anaknya, seperti pengetahuan tentang kehidupan sex bagi suami isteri, pengetahuan untuk mengatur rumah tangga terutama bagi sang isteri, tugas dan juga kewajiban bagi seorang suami, pengetahuan tentang memelihara anak-anaknya kelak, dan pengetahuan tentang pendidikan sehingga kelak pada waktunya ia berumah tangga diharapkan agar kehidupan rumah tangganya baik dan harmonis, karena kebaikan rumah tangga ini juga dapat berpengaruh baik bagi kehidupan bermasyarakat.
b.      Fungsi pemeliharaan
Yang dimaksud dengan fungsi pemeliharaan disini adalah kewajiban keluarga dalam usaha untuk melindungi setiap anggota keluarganya dari gangguan-gangguan seperti gangguan udara, penyakit, dan juga gangguan bahaya yang mengancam sehingga keamanan didalam masyarakat dapat terpelihara dan terhindar dari segala gangguan bahaya dari luar sana.
c.       Fungsi ekonomi
Keluarga mempunyai peran yang sangat penting bagi pemenuhan kebutuhan pokok setiap anggota keluarganya, seperti kebutuhan makan dan minum, kebutuhan pakaian, dan juga kebutuhan tempat tinggal. Disamping itu juga akan ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi seperti uang kesehatan maupun uang pendidikan.
d.      Fungsi keagamaan
Keluarga harus mengenalkan agama yang mereka anut kepada anak-anaknya sedini mungkin. Terlebih sebagai warga negara Indonesia yang berkewajiban untuk mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari dimana terdapat dalam pancasila bahwa setiap warga Indonesia harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
e.      Fungsi sosial
Di dalam fungsi ini keluarga harus mempersiapkan anak-anaknya dengan memperkenalkan nilai-nilai, sikap-sikap serta mempelajari peranan-peranan baik yang dianut oleh masyarakat yang diharapkan akan mereka jalankan dengan baik pula tanpa melanggar norma-norma dalam masyarakat kelak bila sudah dewasa.
Berikut beberapa fungsi keluarga yang ditulis oleh Drs. Soewaryo Wangsanegara dalam buku Ilmu Sosial Dasar:
a.       Pembentukan kepribadian.
b.      Alat reproduksi kepribadian-kepribadian yang berakar dari etika, estetika, moral, keagamaan, dan kebudayaan.
c.       Eksponen dari kebudayaan masyarakat, karena menempati posisi kunci.
d.      Lembaga perkumpulan perekonomian.
e.      Pusat pengasuhan dan pendidikan.

3.       Masyarakat
Kehidupan bersama manusia berlangsung dalam suatu wadah yang dinamakan masyarakat. Masyarakat adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi. Masyarakat terbentuk dari individu-individu yang saling berhubungan dan membentuk pola hubungan tertentu. Pola hubungan tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan tumbuh dan berkembang karena adanya kesamaan nilai dari para anggotanya. Nilai-nilai umum dalam suatu masyarakat disebut norma sosial, dan norma sosial inilah yang akhirnya akan membentuk suatu struktur social.
Penerapan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, musyawarah, sikap tepa salira (tenggang rasa) sangat erat hubungannya dengan nilai sosial dan norma sosial yang terdapat dalam masyarakat. Maka dari itu, dalam hidup bermasyarakat nilai sosial dan norma sosial harus diperhatikan oleh semua anggota masyarakat. Dengan begitu, nilai-nilai luhur akan terus dapat diterapkan dengan baik dan sebagaimana mestinya.

4.       Hubungan Antara Individu, Keluarga, dan Masyarakat
Masyarakat terdiri dari kumpulan keluarga atau individu yang saling berkaitan satu sama lain dalam melakukan atau melaksanakan tugas dan perannya masing-masing guna mencapai tujuan tertentu yang sudah disepakati bersama untuk memiliki kehidupan yang layak tanpa meninggalkan nilai dan norma yang berlaku.
Kepribadian seseorang dibentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Masyarakat berhubungan dengan susunan serta proses hubungan antara manusia dan golongan.
Apabila masyarakat diumpamakan sebagai sebuah keluarga, maka struktur sosial identik dengan kedudukan, peran, dan pola interaksi antaranggota keluarga. Di mana dalam sebuah keluarga terdapat kedudukan dan peran dari masing-masing anggotanya. Seperti peran dan kedudukan seorang ayah, ibu, anak, pengurus anak, dan lain sebagainya. Setiap keluarga memiliki norma-norma yang disepakati bersama mengenai bagaimana pola hubungan dalam keluarga tersebut dijalankan, begitu pun dalam suatu masyarakat.
Lingkungan sosial terdiri atas individu maupun kelompok yang berada di sekitar manusia. Di dalam masyarakat akan dijumpai lapisan-lapisan sosial yang menghasilkan kepribadian masing-masing. Individu disebut berkepribadian jika pola perilaku khas diproyeksikan pada suatu lingkungan sosialnya. Perilaku individu diharapkan selaras dengan lingkungan sosialnya dalam situasi tertentu sebagai berikut.
1)      Individu dengan keluarga. Peranan individu ditentukan adat istiadat, norma-norma, dan nilai-nilai serta bahasa yang ada pada keluarga melalui proses sosialisasi dan internalisasi.
2)      Individu dengan masyarakat. Posisi dan peranan individu dalam komunitas tidak lagi bersifat langsung, sebab perilakunya sudah tertampung atau diredam oleh keluarga dan kebudayaan yang mencakup dirinya.
Kepribadian yang tidak selaras dengan lingkungan sosial mewujudkan pola perilaku yang menyimpang yang membuat keresahan masyarakat, misalnya kenakalan remaja, tindak kriminal, penyalahgunaan narkoba yang semuanya merupakan penyakit masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.


DAFTAR PUSTAKA

Sosiologi, Tim. 2007. Sosiologi: Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat, Edisi revisi. Jakarta:  Yudhistira.

Sudarmi, Sri, dan W. Indriyanto. 2009. Sosiologi 1: Untuk Kelas X SMA dan MA. Jakarta: CV. Usaha Makmur


http://library.walisongo.ac.id/digilib/download.php?id=6835

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/bab3-individu_keluarga_dan_masyarakat.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar