Oleh :
Reni Qonitah Putri
(19614060)
2SA10
1.
Pertumbuhan Individu
1)
Pengertian Individu
Individu adalah sebutan untuk
menyatakan suatu hal yang terkecil. Menurut pendapat Dr. A. Lysen, kata
individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi
melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagi manusia perseorangan.
Pada umumnya manusia lahir ke muka
bumi seorang diri. Manusia adalah makhluk yang unik, selain ditakdirkan sebagai
makhluk pribadi atau individu, manusia juga termasuk sebagai makhluk sosial.
Tingkah laku manusia sebagai makhluk
individu berbeda dengan tingkah laku manusia sebagai makhluk sosial. Tingkah
laku manusia sebagai makhluk pribadi atau individu sangat dipengaruhi oleh
lingkungan sosialnya. Sedangkan tingkah laku manusia sebagai makhluk sosial yang
tidak bisa hidup sendiri, mereka perlu bantuan serta kerja sama dengan orang
lain dan berusaha mencukupi semua kebutuhannya untuk kelangsungan hidupnya. Bila
dibandingkan dengan makhluk lain seperti hewan, manusia tidak bisa hidup
seorang diri, manusia selalu membutuhkan manusia lain untuk dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya. Di samping itu, manusia tidak dikaruniai Tuhan dengan kemampuan fisik
yang cukup kuat untuk dapat hidup sendiri. Itulah sebabnya manusia hidup
berkelompok.
Manusia perlu berhubungan/berinteraksi
dengan orang lain sebagai makhluk sosial. Setiap individu ataupun kelompok
sering kali memiliki kepentingan yang berbeda dengan individu atau kelompok
lainnya. Dalam berhubungan dengan orang lain, terdapat ciri respirokal (timbal
balik), hubungan tersebut bisa saling menguntungkan bahkan bisa merugikan,
bergantung dari konteks hubungan tersebut.
Kecenderungan manusia untuk
berkelompok (gregariousness) pada zaman dahulu sering dianggap suatu naluri yang
diwariskan secara biologis. Kelompok-kelompok manusia tersebut tidak terjadi
dengan sendirinya, tetapi melalui sebuah proses.
Sebagai gambaran, keadaan seorang
bayi sangat bergantung pada orang dewasa. Hal ini tampak dari reaksi-reaksi
bayi yang ditunjukkan kepada orang dewasa. Seperti, senyuman, gerakan tangan,
ataupun celotehan. Setelah bayi tumbuh menjadi seorang anak, maka ia mulai bisa
diajak bermain. Minat anak terpusat pada alat permainan. Dari situlah anak mendapatkan
kebahagiaan.
Selanjutnya, mulailah anak mengalami
pengalaman-pengalaman yang lebih luas, menambah kesenangan dan penghiburan,
berkumpul, bermain, serta bekerjasama dengan anak lain. dengan demikian, anak
dapat melaksanakan dan menikmati hal-hal yang tidak pernah tercapai bila
diusahakan sendiri.
Pergaulan dengan kawan lain menjadi
suatu kebutuhan bagi seorang anak. Persahabatan dan penghargaan kawan akan
menyenangkan, sebaliknya kritikan atau ejekan akan menekan jiwanya. Gambaran kehidupan
anak tersebut menunjukkan pentingnya individu hidup berkelompok karena dengan
berkelompok akan terpenuhi segala kebutuhannya.
Dari uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki
peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai
kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya.
2)
Faktor
yang Mempengaruhi Pertumbuhan Individu
Pertumbuhan (growth) sebenarnya
merupakan sebuah istilah yang sering digunakan dalam biologi, sehingga
pengertian lebih bersifat biologis. C.P. Chaplin, mengartikan pertumbuhan
sebagai satu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran bagian-bagian tubuh dari organisme
sebagai suatu keseluruhan. Menurut A.E. Sinolungan, pertumbuhan merujuk pada
perubahan kuantitatif, seperti panjang, volume, atau berat. Sedangkan Ahmad
Tanthowi, mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam
ukuran, sebagai akibat dari adanya perbanyakan sel.
Jika dibandingkan dengan
perkembangan yang berkenaan dengan aspek-asek psikis, maka pertumbuhan lebih
banyak berkenaan dengan penyempurnaan struktur atau aspek-aspek jasmaniah yang
menunjukkan perubahan secara kuantitas, yaitu penambahan ukuran besar, tinggi,
ataupun berat.
Walaupun ada banyak perbedaan
pendapat diantara para ahli, pertumbuhan dapat dikatakan sebagai suatu
perubahan untuk menuju kearah yang lebih maju, lebih baik, ataupun lebih
dewasa.
Ada tiga macam faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan individu, diantaranya:
a.
Pendirian
nativistik
Menurut para ahli, pendirian
nativistik yaitu pertumbuhan individu yang ditentukan oleh faktor-faktor yang
dibawa sejak lahir, seperti kemiripan antara orang tua dengan anaknya.
b.
Pendirian
empiristik dan environmentalistik
Para ahli berpendapat tentang
pendirian yang berlawanan dengan pendapat nativistik ini bahwa pertumbuhan
individu bukan ditentukan oleh faktor dasar melainkan tergantung kepada
lingkungan .
c.
Pendirian
konvergensi dan interaksionisme
Pendirian yang terdiri atas gabungan
dari pendirian nativistik lalu pendirian konvergensi dan interaksionisme ini dinyatakan
bahwa interaksi antara dasar dan lingkungan dapat menentukan pertumbuhan
individu.
Berdasarkan psikologi, ada beberapa
tahap pertumbuhan individu, diantaranya:
a.
Masa
vital, yaitu dari umur 0.0 tahun sampai kira-kira 2 tahun.
b.
Masa
estetik, yaitu dari kira-kira umur 2 tahun sampai kira-kira umur 7 tahun.
c.
Masa
intelektual, yaitu dari kira-kira umur 7 tahun sampai kira-kira umur 13 tahun
atau 14 tahun.
d.
Masa
sosial, yaitu dari kira-kira umur 13 tahun atau 14 tahun sampai kira-kira umur
20 tahun atau 21 tahun.
1)
Masa
pra remaja
Masa yang berlangsung secara singkat
ini disebut juga dengan masa negatif yang ditandai oleh sifat-sifat negatif, misalnya
tidak tenang, kurang suka bekerja, kurang suka bergerak, lekas lelah, kebutuhan
untuk tidur besar, hati sering murung, pesimistik, dan non sosial.
2)
Masa
remaja
Pada masa ini proses terbentuknya pendirian
atau cita-cita hidup dapat dipandang sebagai penemuan nilai-nilai hidup di
dalam eksplorasi remaja.
3)
Masa
usia mahasiswa
Masa usia mahasiswa ini berumur
sekitar 18 tahun sampai 30 tahun. Mereka dapat dikelompokkan pada masa remaja
akhir sampai dewasa awal.
Mahasiswa ini termasuk kedalam
kelompok khusus dalam suatu masyarakat maka mereka mulai mempersiapkan diri
untuk menerima tugas-tugas pimpinan dimasa mendatang. Oleh karena itu mereka
mulai mempelajari berbagai aspek kehidupan.
Mahasiswa akan mengalami perubahan
secara perlahan demi sikap hidup yang idealistik ke sikap hidup yang realistik.
Dengan demikian keinginan-keinginan yang realistik dalam dirinya dan realitas
dalam lingkungannya telah diganti dengan yang lebih berdasar kepada realistik. Tetapi
hal ini tidak berarti bahwa di kalangan mahasiswa tidak ada idealisme, justru
pada mahasiswa ini banyak terdapat idealisme
tetapi idealisme yang realistik yaitu yang dapat diterapkan dalam tindakan.
2.
Keluarga
1)
Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan kelompok sosial
terkecil dalam masyarakat. Jika dilihat berdasarkan klasifikasi kelompok dari
kualitas hubungan antaranggota, keluarga termasuk dalam salah satu kelompok
primer dimana hubungan antaranggotanya saling mengenal dan bersifat informal.
Keluarga inti (keluarga batih)
terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya yang belum menikah. Keluarga inti
memberikan sosialisasi dan perlindungan kepada anak-anak, dan mendidik mereka
sampai mandiri.
Dari keluarga inti berkembang
menjadi keluarga besar (extended family)
atau disebut dengan kelompok kekerabatan. Dalam kelompok kekerabatan terdapat
hubungan darah atau hubungan persaudaraan. Kelompok kekerabatan ini merupakan
cikal bakal terbentuknya masyarakat.
Jadi, keluarga merupakan institusi
penanaman nilai (sosialisasi) yang pertama serta utama kepada seseorang. Proses
penanaman nilai ini bersifat terus-menerus sehingga seorang anak diharapkan
dapat menjalankan perannya dengan baik dan benar dalam masyarakat.
2)
Fungsi Keluarga
Fungsi
adalah pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan
tertentu. Didalam sebuah keluarga juga tentu ada berbagai fungsi yang harus dilakukan guna mencapai tujuan yang
diinginkan oleh setiap anggota keluarga.
Jadi, fungsi
keluarga adalah hal-hal yang harus dikerjakan atau dilaksanakan didalam sebuah
keluarga ataupun dilaksanakan oleh seluruh anggota keluarga.
3) Macam-Macam Fungsi Keluarga
a. Fungsi biologis
Pada hakikatnya,
setiap manusia mempunyai tuntutan biologis bagi kelangsungan hidup keturunannya
dengan melalui perkawinan. Maka para orang tua perlu menanamkan berbagai macam
pengetahuan kepada anak-anaknya, seperti pengetahuan tentang kehidupan sex bagi
suami isteri, pengetahuan untuk mengatur rumah tangga terutama bagi sang
isteri, tugas dan juga kewajiban bagi seorang suami, pengetahuan tentang
memelihara anak-anaknya kelak, dan pengetahuan tentang pendidikan sehingga
kelak pada waktunya ia berumah tangga diharapkan agar kehidupan rumah tangganya
baik dan harmonis, karena kebaikan rumah tangga ini juga dapat berpengaruh baik
bagi kehidupan bermasyarakat.
b. Fungsi
pemeliharaan
Yang dimaksud
dengan fungsi pemeliharaan disini adalah kewajiban keluarga dalam usaha untuk melindungi
setiap anggota keluarganya dari gangguan-gangguan seperti gangguan udara,
penyakit, dan juga gangguan bahaya yang mengancam sehingga keamanan didalam
masyarakat dapat terpelihara dan terhindar dari segala gangguan bahaya dari
luar sana.
c. Fungsi
ekonomi
Keluarga
mempunyai peran yang sangat penting bagi pemenuhan kebutuhan pokok setiap
anggota keluarganya, seperti kebutuhan makan dan minum, kebutuhan pakaian, dan
juga kebutuhan tempat tinggal. Disamping
itu juga akan ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi seperti uang kesehatan
maupun uang pendidikan.
d. Fungsi
keagamaan
Keluarga harus mengenalkan agama
yang mereka anut kepada anak-anaknya sedini mungkin. Terlebih sebagai warga
negara Indonesia yang berkewajiban untuk mengamalkan nilai-nilai pancasila
dalam kehidupan sehari-hari dimana terdapat dalam pancasila bahwa setiap warga
Indonesia harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
e. Fungsi
sosial
Di dalam
fungsi ini keluarga harus mempersiapkan anak-anaknya dengan memperkenalkan
nilai-nilai, sikap-sikap serta mempelajari peranan-peranan baik yang dianut
oleh masyarakat yang diharapkan akan mereka jalankan dengan baik pula tanpa
melanggar norma-norma dalam masyarakat kelak bila sudah dewasa.
Berikut beberapa fungsi keluarga yang
ditulis oleh Drs. Soewaryo Wangsanegara dalam buku Ilmu Sosial Dasar:
a.
Pembentukan
kepribadian.
b.
Alat
reproduksi kepribadian-kepribadian yang berakar dari etika, estetika, moral,
keagamaan, dan kebudayaan.
c.
Eksponen
dari kebudayaan masyarakat, karena menempati posisi kunci.
d.
Lembaga
perkumpulan perekonomian.
e.
Pusat
pengasuhan dan pendidikan.
3.
Masyarakat
Kehidupan
bersama manusia berlangsung dalam suatu wadah yang dinamakan masyarakat. Masyarakat adalah makhluk sosial yang
selalu berinteraksi. Masyarakat terbentuk dari individu-individu yang saling
berhubungan dan membentuk pola hubungan tertentu. Pola hubungan tersebut tidak
terjadi dengan sendirinya, melainkan tumbuh dan berkembang karena adanya
kesamaan nilai dari para anggotanya. Nilai-nilai umum dalam suatu masyarakat
disebut norma sosial, dan norma sosial inilah yang akhirnya akan membentuk
suatu struktur social.
Penerapan nilai-nilai luhur seperti
gotong royong, musyawarah, sikap tepa salira (tenggang rasa) sangat erat hubungannya
dengan nilai sosial dan norma sosial yang terdapat dalam masyarakat. Maka dari
itu, dalam hidup bermasyarakat nilai sosial dan norma sosial harus diperhatikan
oleh semua anggota masyarakat. Dengan begitu, nilai-nilai luhur akan terus
dapat diterapkan dengan baik dan sebagaimana mestinya.
4. Hubungan Antara Individu, Keluarga,
dan Masyarakat
Masyarakat
terdiri dari kumpulan keluarga atau individu yang saling berkaitan satu sama
lain dalam melakukan atau melaksanakan tugas dan perannya masing-masing guna mencapai
tujuan tertentu yang sudah disepakati bersama untuk memiliki kehidupan yang
layak tanpa meninggalkan nilai dan norma yang berlaku.
Kepribadian seseorang dibentuk dalam
lingkungan keluarga dan masyarakat. Masyarakat berhubungan dengan susunan serta
proses hubungan antara manusia dan golongan.
Apabila masyarakat diumpamakan
sebagai sebuah keluarga, maka struktur sosial identik dengan kedudukan, peran,
dan pola interaksi antaranggota keluarga. Di mana dalam sebuah keluarga
terdapat kedudukan dan peran dari masing-masing anggotanya. Seperti peran dan
kedudukan seorang ayah, ibu, anak, pengurus anak, dan lain sebagainya. Setiap
keluarga memiliki norma-norma yang disepakati bersama mengenai bagaimana pola
hubungan dalam keluarga tersebut dijalankan, begitu pun dalam suatu masyarakat.
Lingkungan sosial terdiri atas
individu maupun kelompok yang berada di sekitar manusia. Di dalam masyarakat
akan dijumpai lapisan-lapisan sosial yang menghasilkan kepribadian
masing-masing. Individu disebut berkepribadian jika pola perilaku khas
diproyeksikan pada suatu lingkungan sosialnya. Perilaku individu diharapkan
selaras dengan lingkungan sosialnya dalam situasi tertentu sebagai berikut.
1)
Individu
dengan keluarga. Peranan individu ditentukan adat istiadat, norma-norma, dan
nilai-nilai serta bahasa yang ada pada keluarga melalui proses sosialisasi dan
internalisasi.
2)
Individu
dengan masyarakat. Posisi dan peranan individu dalam komunitas tidak lagi
bersifat langsung, sebab perilakunya sudah tertampung atau diredam oleh
keluarga dan kebudayaan yang mencakup dirinya.
Kepribadian
yang tidak selaras dengan lingkungan sosial mewujudkan pola perilaku yang menyimpang yang membuat
keresahan masyarakat, misalnya kenakalan remaja, tindak kriminal, penyalahgunaan narkoba yang
semuanya merupakan penyakit masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat, semua
tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku
sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di
tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan
yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya
seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu
siswa lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Sosiologi,
Tim. 2007. Sosiologi: Suatu Kajian
Kehidupan Masyarakat, Edisi revisi. Jakarta: Yudhistira.
Sudarmi, Sri, dan W. Indriyanto. 2009.
Sosiologi 1: Untuk Kelas X SMA dan MA.
Jakarta: CV. Usaha Makmur
http://library.walisongo.ac.id/digilib/download.php?id=6835
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/bab3-individu_keluarga_dan_masyarakat.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar