Senin, 04 Maret 2013

CAN'T WAIT FOR THIS~!!!

THIS IS IT!!! MY TICKETS FOR MUSIC BANK JAKARTA ON MARCH 9 2013!!! CAN'T WAIT FOR THIS CONCERT BCS I CAN MEET SUPER JUNIOR AGAIN!!! YAYYY!!! KKK~

AND IN THIS PICTURE, I JUST BOUGHT SOME BREAD FROM TOUS LES JOURS
(SUPER JUNIOR EUNHYUK'S BAKERY) SO YUMMY~! ^^




AND YEAH I CANNOT WAIT FOR THIS CONCERT TOO............

SEE YOU THERE ELPEU~!!! ^___^

Because I Love You (Part 4)


PART 4

cr: elisa

cast:
- Hye Jin (You)
- Lee Donghae

- Lee Hyuk Jae


******

*review part 3*


“ mianhae!! jeongmal mianhae!!! Aku minta maaf Lee Donghae !!! “ seruku dengan diiringi air mata.
“ aku sudah membuatmu pergi dari dunia ini... mianhae !! “ kataku lagi ... aku masih berlutut sambil berpegangan pada tiang westafel. Mulutku gemetaran dan tanganku mulai lemas. Aku menangis sepuasnya disini, aku merasa telah melakukan kesalahan yang amat besar dan tidak pernah bisa dimaafkan .



******

Eunhyuk POV

Aku langsung berganti pakaian. Kukancing satu persatu jas hitamku. Setelah itu, kubenarkan lagi dasi biruku. Aku berdiri didepan cermin untuk melihat penampilanku hari ini.
‘tenangkan dirimu eunhyuk.... kau jangan berfikir yang aneh aneh.. lihat matamu sudah sedikit sembab. Untung hari ini tidak ada meeting, jadi aku bisa berkerja diruanganku sendiri. Dan tidak ada orang yang melihat penampilanmu.. ‘

Aku keluarkan mobil sportku yang ada digarasi. Setelah keluar aku berhenti sejenak. Entah mengapa aku jadi terfikirkan oleh Hye jin. Bagaimana kalau aku menemuinya dulu sebelum berangkat kekantor? Baiklah, itu tidak masalah.


Aku diantar masuk oleh suster disini. Aku berjalan masuk menghampri Hye Jin yang sedang duduk dibangkunya sambil menatap keluar. Kudengar langkah kaki suster itu yang mulai samar-samar ditelingaku. Pasti susternya sudah pergi.

“ Hye Jin.... “ ucapku. Aku berdiri dibelakangnya, sepertinya ia sedang melamun.
Tak lama kemudian ia menoleh dan mendongkah kepalanya keatas, setelah itu ia tersenyum manis padaku.
Sungguh, aku merasakan ada yang aneh dengan Hye Jin. Dari kemarin sikapnya aneh padaku, ya walaupun aku senang melihat perbuahan sikapnya. Tapi aku harap ini bukan karena semata-mata karena dia gila .
“ kau kenapa? Mengapa matamu sembab? “ tanya Hye Jin.
Aku cukup terkejut dengan pertanyaan Hye Jin. Aku tidak yakin kalau dia ini gila .
“ ah, tidak apa-apa ... “ jawabku sambil menyengir kecil.
“ tidak apa-apa bagaimana? Lihat matamu sembab seperti itu .... jujur saja, kau kenapa? “
Aku berjalan mundur dan duduk ditempat tidurnya . walau aku duduk disini jarak kami masih dibilang dekat .
“ aku sedang sedih .... “ jawabku sambil menatap bunga-bunga kecil yang terlihat cantik ditaman sana.
“ sedih kenapa? “ tanya Hye Jin.
Aku sedikit binggung untuk menjawab pertanyaan Hye Jin yang satu ini. Apa aku katakan yang sebenarnya tentang kejadian yang sedang aku alami? Tapi dia kan gila, apa dia akan mendengarkan curhatanku? Tapi tidak ada salahnya juga kalau aku cerita. Asal aku tidak menyebut nama Donghae disini.

“ jadi begini, saat ini aku sedang teringat dengan sahabatku yang sudah meninggal. Dia begitu baik padaku, dia selalu ada untukku, dan selalu perhatian denganku. Dia itu sudah seperti orang tua, adik dan sahabatku sendiri...... “
terbayang semua masa-masaku dengan Donghae dulu. Tanpa kusadari aku tersenyum sendiri meninggatnya.
“ lantas, mengapa kau bersedih? “ tanya Hye Jin yang langsung membuyarkan lamunanku.
“ ia sudah pergi. Dan itu karena aku. “ jawabku sambil menunduk. Rasanya berat sekali untuk mengatakan ini.
“ ia sudah pergi? Apa kau yang mengusirnya pergi dari hidupmu atau dia yang meninggalkanmu? “
Pertanyaan Hye Jin mampu membuatku terpukul. Mataku lagi-lagi mulai basah. Namun aku berusaha untuk menahannya agar ia tidak keluar. Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
“ aku yang telah mengusirnya... “ jawabku . sungguh saat ini hatiku terasa sakit, bernafaspun sulit.
“ kenapa kau lakukan itu? bukankah katanya dia itu sahabatmu? “
Hye jin benar, mengapa aku lakukan itu? tapi .... gara-gara dia, aku hidup sendiri tanpa orang tua.
“ dia yang sudah membuatku orang tuaku pergi dari dunia ini. dia yang sudah membuatku hidup kesepian selama 18 tahun. “ ucapku. Gara-gara mengatakan hal ini perasaanku sedikit membaik, setidaknya ada yang memberiku alasan untuk tidak menyesali perbuatanku.
“ jadi karena itu? kau orang yang bodoh.....  “ ucap Hye Jin. Mendengarnya berkata seperti itu, secara reflek kuangkat kepalaku. Aku mendapati dirinya sedang memandangiku dengan tatapan ‘ kau orang bodoh ‘ aku mengangkat alisku karena binggung dengan ucapannya barusan. Hye jin mengerti dengan ekspresi wajahku dan ia melanjutkan kata-katanya.

“ kau jangan pernah menyalahkannya atas kepergian orang tuamu, sahabatmu itu hanya manusia biasa. Ia bukan Tuhan yang bisa membuat dan menentukan orang itu harus meninggal atau tidak. Kau jangan pernah membenci sahabatmu. Walau selama ini kau hidup tanpa ada orang tua disisimu, tapi tanpa kau sadari Tuhan sudah mengirimu seseorang yang akan menemanimu sepanjang waktu. Dan orang itu sahabatmu... “

Aku terdiam mendengar Hye Jin berkata seperti itu. Entah mengapa perkataannya begitu membekas dihatiku. Kutatap bunga mawar yang ada ditaman sana, yang ada diotakku kini hanya wajahnya Donghae saja.

“ sahabatmu itu yang akan mengantikan posisi orang tua mu. Kau bilang dia orangnya sangat baik, selalu ada untukmu dan sangat perhatian. Bukankah itu semua itu sudah lengkap ? “ ucap Hye Jin.
Kini aku sudah tidak bisa menahan air mataku untuk tidak keluar. Aku merasakan apa yang dikatakan Hye Jin sangat benar. Aku tidak tahu kalau Hye Jin sangat dewasa. Apakah orang gila juga bisa bersikap seperti ini juga?

“ baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya .. “ aku turun dari tempat tidur Hye Jin dan melangkah pergi. Aku merasa sudah tidak tahan lagi berada disini. Disepanjang jalan aku selalu terfikirkan oleh ucapan Hye Jin. Apa aku ini orang yang jahat ? Ah, aku ini memang manusia yang tidak punya hati!


Aku duduk dibangku kerjaku. Kusenderkan kepala dan punggungku dikursi ini. Rasanya aku sudah melakukan kerjaan yang sangat berat. Kututup kedua mataku dan menarik nafas dalam.
“ aku adalah orang yang tidak punya hati ............ “ ucapku.
ku menghembus nafas cepat. Kubuka mataku dan menatap meja. aku harus berkerja, jangan pikirkan masalah ini dulu.
Kubuka file-file yang ada dimeja dan kubuka satu persatu. Lagi-lagi aku selalu terfikirkan oleh ucapan Hye Jin. Ah, aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi berkerja jika perasaanku seperti ini . Sebaiknya aku harus pergi untuk refreshing sebentar, otakku terasa penat saat ini.

Kukendarain mobilku entah kemana, kubiarkan kaki, tangan dan hatiku yang mengantarku ketempat yang sudah mereka tentukan. saat ini otakku terasa kosong.
Akhirnya aku sampai disuatu tempat. Walau awalnya aku sempat tidak mau kesini, akhirnya aku menerimanya. Aku berjalan menaiki anak tangga yang terbuat dari semen. Banyak sekali gundukan tanah disini. Pemandangan disini juga indah, karena tempat ini berada disebuah bukit.
Tak lama kemudian aku sampai ditempat yang ingin aku kunjungi setelah melewati puluhan anak tangga . Aku berjalan menuju papan nama yang bertuliskan Lee Donghae. Tanahnya masih segar walau beberapa bunga ini sudah mulai layu. Kuambil bunga-bunga yang warnanya yang sudah jelek dan menyingkirkannya . Kupandangi namanya disana. Namanya tidak salah. Lalu kulihat hangeulnya. Hangeulnya juga tidak salah. Berarti ini benar makam Lee Donghae, sahabatku.

Aku ini manusia terbodoh didunia. Bagaimana bisa namamu ada disini? Seharusnya namamu bakal terpajang disini puluhan tahun lagi.
Beberapa menit memandangi namanya dadaku jadi terasa berat, mataku juga sudah mulai basah. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa sakit sekali.

“ maukah kau berjanji padaku Lee Hyuk Jae? “
“ janji apa Lee Donghae? “
“ kau akan selalu ada disampingku sampai kapanpun ..... “
“ aku janji, tapi kau juga harus ada disampingku sampai kapanpun........ “
“ ia aku janji ....... “

Suara itu, mengapa muncul lagi? Mengapa aku selalu mendengar suaramu?

“ Lee Hyuk Jae ........ “
“ apa Donghae ? “
“ Lee Hyuk Jae ........ “
“ apa Lee Donghae? “
“ aku menyayangimu .......... kalau kau? “
“ ne, aku juga menyayangimu .... “

Air mataku langsung menetes ketanah, aku merasa setiap detik air ini menetes dan jatuh ketanah.
“ Lee Donghae, mianhae ........ mianhae ............ (maaf)“ aku menangis dan berlutut disamping makamnya.
“ aku merindukanmu , aku sangat merindukanmu Lee Donghae... “ tangisku semakin menjadi jadi.
“ seharusnya aku yang ada disini, bukannya kau. Aku manusia tidak berguna ini seharusnya ada didalam tanah ini. seharusnya aku !! “ kuremas tanah ini, mulutku bergetar.
“ aku menyesal, aku sangat menyesal... maafkan aku lee donghae. Seharusnya aku menyuruh laki-laki itu untuk menembakku saja. Bukannya kau yang ditembak! Seharusnya peluru itu menancap dijantungku saja! “ teriakku. Aku menagis dan terus menangis. mataku tidak berhenti mengeluarkan air mata yang terus membanjiriku. Dadaku terasa sakit. Rasanya berat sekali.


Author POV

“ dasar kau manusia tidak punya hati ! jadi kau pelakunya?!! Teganya kau !! kau ini sahabatku atau bukan??!!!!! “
Ia sedang berdiri mematung dan menangis didepan papan yang bertuliskan namanya. Hatinya seperti ditusuk pedang berkali-kali. Ia tidak bergerak sama sekali. Dipandangi sahabatnya yang kini sedang menangis dan menyebut-nyebut namanya. Ia tidak habis pikir mengapa sahabatnya melakukan hal ini.

Malam telah tiba. Eunhyuk duduk dikasurnya sambil melamun, sudah berjam-jam ia melakukan hal ini. ia melipat kakinya lalu memeluknya. Tatapan matanya kosong, matanya sembab. Tiba-tiba aura dikamar ini langsung berubah, terasa dingin dan begitu mencekam. Eunhyuk pun menyadari hal ini. matanya berkeliling dikamar ini seperti mencari seseorang. Diluruskan kakinya lalu ia menoleh kekanan-kiri. Dan ia tidak menemukan apapun. Eunhyuk membuang nafas cepat. Ia langsung membaringkan dirinya dikasur dan menarik selimut untuk menutupi setengah tubuhnya. Lagi-lagi ia membuang nafas cepat. Ditutupnya kedua matanya agar ia cepat masuk kealam bawah sadarnya.

Mata eunhyuk langsung terbuka lebar, digenggam tenggorokannya karena ia merasa ada yang mencekiknya. Wajahnya merah seperti semua darah sudah terhenti dikepalanya.
“ aa..aaa..... “ Eunhyuk berusaha untuk berbicara, namun tenggorokannya terasa sangat sakit.
Matanya menatap lurus kesamping sebelah kiri. Ia seperti sedang melihat sesuatu. Eunhyuk melepaskan tangannya yang semula menempel dilehernya dan menjatuhkannya ditempat tidur. Matanya masih menatap seseorang yang ada disampingnya. Matanya mulai basah dan memerah. Sudah beberapa menit ia tidak berkedip sama sekali. Tak lama kemudian satu tetes air yang ada dimata kecil Eunhyuk menetes dan jatuh kebantalnya. Matanya berkedip sekali sehingga air matanya jatuh kembali. Saat ini ia sudah seperti orang yang pasrah, padahal jiwanya bisa saja melayang saat ini juga jika ia tidak melakukan sesuatu untuk menyelamatkan tenggorokannya.


Mereka berudua saling bertatapan satu sama lain. Kedua tangannya masih menekan kuat leher sahabatnya. Emosi yang terdapat didalam hatinya sudah membuatnya seperti ini. matanya menatap lekat seseorang yang sudah diangapnya sahabat selama belasan tahun.
“ wae? (kenapa? ) ............... “ tanyanya.

Eunhyuk diam, mungkin ia tidak bisa bicara karena lehernya masih tercekik. Eunhyuk masih menatap sahabatnya yang ada diatasnya. Secara perlahan ia melepaskan jari-jarinya dileher Eunhyuk. Kini Eunhyuk sudah bisa bernafas dengan lancar.
“ wae ? ...... bukankah kita ini sahabat ? ............. “ ucapnya. Tatapan matanya berbeda sekali. Ini pertama kali eunhyuk melihat tatapan mata seperti itu. Eunhyuk masih diam, tetapi matanya terus berbicara lewat tetesan air hangat yang terus mengalir seperti sungai kecil.

“ kau sahabatku, bukan. Kita sudah lebih dari sekedar sahabat. Bukankah kau tau itu? jadi apa alasanmu melakukan ini LEE HYUK JAE !!!!!! “ kini emosinya sudah memuncak. Ia berteriak sangat keras. Orang lain pasti tidak akan mendengarnya. Tapi eunhyuk, ia mendengarnya sangat jelas. Ia tidak tahu sejak kapan ia punya kemampuan melihat makhluk astral.

Ia berdiri mematung disamping tempat tidur eunhyuk. Suasana hening. Tetapi mata kedua nya berteriak kesakitan. Air matanya tidak berhenti mengalir. Kini Eunhyuk sudah membukanya untuk berbicara.

“ mian, mianhae ................. “ ucap Eunhyuk lirih. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang bisa ia katakan hanya kata ‘ maaf ‘. Ia diam, tubuhnya yang sedari berdiri kini sudah berlutut dilantai. Kakinya lemas, begitu juga dengan tubuhnya. Ia menangis, dan terus menangis. sekarang ruangan ini penuh dengan air mata.



Hye jin berbaring dikasur kecilnya. Kedua matanya tertutup rapat. Ruangan ini dingin, namun ia tidak mengenakan selimut ditubuhnya. Saat ini sudah jam 1 pagi, waktu yang sangat dini diawal hari. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang makin lama semakin terdengar jelas ditelinga hye jin. Decitan pintu kamarnya berbunyi dan terbuka . Sekarang langkah kaki itu sudah berhenti. Hye jin membuka matanya perlahan dan menatap kesamping. Saat ini suaminya sedang duduk ditempat tidurnya sambil membelai lembut rambut Hye Jin.

“ mengapa kau baru datang sekarang? Dari tadi aku menunggumu......... “ ucap Hye Jin. Sambil berkedip sekali. Suaminya hanya berusaha tersenyum mendengar kata-kata hye jin walaupun saat ini hatinya sedang terluka.
“ mian ..... “ hanya satu kata yang terucap dari mulut suaminya. Hye Jin menatap lekat wajah pria itu. ia menyadari perubahan wajah dari suaminya saat ini.
“ kau kenapa? “ tanya Hye Jin. Ia hanya menggeleng sebagai jawabannya. Lalu Hye Jin diam kembali.
“ kau tidur saja, ini sudah larut malam .... “ katanya.

Hye Jin menurut dengan kata-kata suaminya. Dipejamkan kedua matanya agar cepat sampai kealam bawah sadarnya . Dipandangnya wajah sang istri yang kini sudah mulai tidur. Tangannya masih bermain asyik dengan helaian rambut panjang yang dimiliki Hye jin. Ia tersenyum tipis lalu membuang nafas cepat.

Ia mendongkah kepalanya keatas. Dadanya terasa berat saat ini. kini tangannya sudah tidak membelai rambut Hye Jin. Dipejamkan kedua matanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak bisa berfikir lagi mengapa hal ini terjadi. Ia begitu terpukul dengan keadaan ini. ingin sekali ia melampiaskan amarahnya, tapi pada siapa? ...... ia hanya bisa memendamnya dalam hati..........


Mengapa penyesalan selalu ada dibelakang? Mengapa ia tidak hadir didepan saja? Hal ini yang selalu ternyiang-nyiang dikepalaku..........


-to be cont.-

Senin, 11 Februari 2013

Because I Love You (Part 3)





PART 3


cr: elisa

cast:
- Hye Jin (You)
- Lee Donghae


- Lee Hyukjae (Eunhyuk)




*****



*review part 2*

Mentari telah terbit , sinar hangatnya mulai berpijak dibumi . pagi ini sangat cerah , udaranya pun terasa sangat sejuk . 

“ hahahaa ... “ 

Hye jin ! apa yang sedang ia lakukan ? mengapa ia tertawa sendiri ? aku berjalan cepat menuju kamarnya . hatiku merasa cemas mengingatnya tadi malam sudah berkata yang tidak tidak . 
“ Hye Jin .. apa yang kamu lakukan ? “ tanyaku sambil berlari menghampirinya yang kini tengah menari nari diatas kasur sambil memeluk guling berwarna putih . 
“ lalala .... lalalala ..... “ Hye Jin bersenandung sendiri . 
Aku semakin cemas , apa yang telah terjadi padanya . apakah dia sudah gila . ia berpakaian gaun berwarna putih dan menghias mukanya dengan asal mengunakan make Up yang ada dimeja kamar ini . kamar ini pun terlihat kotor , dinding penuh dengan coretan lipstic merah dan eyeliner . lantainya pun ditaburi bunga bunga yang sepertinya ia cabuti dari halaman belakang . 
“ Hye Jin , turun .. “ ucapku sambil meraih tangannya . 
Ia pun turun kemudian memelukku dan menangis . 
“ Bi .. “ suara rintihannya terdengar jelas dikupingku . aku tau saat ini ia sedang menangis . Hye Jin .. apa kau baik baik saja ? tidak , kau sedang tidak baik baik saja sekarang . 
Apa yang harus aku lakukan ? 


'Aku harap semua ini hanya mimpi buruk saja , mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan . dan ketika aku membuka mata , kaulah orang yang pertama kali aku lihat . dengan begitu kita bisa hidup bahagia selamanya .. Lee Donghae ....'


******

Apa aku harus melupakanmu dan memulai hidupku yang baru? atau aku harus menunggumu sampai kau datang menjemputku? aku rasa itu sudah gila, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini, tetap setia menunggumu sampai kau datang.



Author POV

“ jiwa keponakan anda saat ini sudah tidak seperti orang normal lainya, mungkin ini akibat dari peristiwa itu.“
“ jadi maksud dokter, keponakan saya..... gila?“ tanya bibi sambil mengengam erat tangan Hye Jin yang kini sedang duduk disampingnya.
“.... iya.. “ jawab dokter itu dengan berat hati .
Bibi menunduk lalu menangis, ia tidak menyangka keadaan akan menjadi seperti ini. Ia kira keponakannya itu orang yang kuat dan tabah dalam keadaan apapun, tapi hal ini dipatahkan dengan keadaan sekarang ini. Mau tidak mau bibi hanya bisa menitipkan Hye Jin kerumah sakit jiwa disana agar Hye Jin bisa cepat sembuh.

“ kamu disini ya, jaga dirimu baik baik.. “ ucap bibi sambil mengecup kening Hye jin sebelum ia memasuki kamarnya itu. Hye Jin terdiam, ia hanya memainkan jari jarinya dan mengigit semua kukunya.

Hye jin memasuki kamarnya dengan ditemani dokter dan suster. Kamarnya penuh dengan warna putih pucat, ruangannya kecil hanya ada 1 lampu berwarna putih. Disini juga ada 1 tempat tidur, 1 meja, 1 kursi, 1 kamar mandi, dan 1 jendela. Pintu kamar ini bukan pintu yang terbuat dari kayu pada umumnya, tetapi pintu ini terbuat dari besi putih yang hanya ada 1 lobang berbentuk persegi ditengahnya. Setelah Hye Jin memasuki kamarnya, dokter dan susterpun meninggalkannya dikamar ini sendiri. Hye Jin berjalan lurus menuju sebuah jendela yang berukuran cukup besar yang ada didepannya. Kamar Hye Jin bersebelahan dengan taman kecil yang ada didepannya, jadi begitu ia melihat lurus kedepan jendela, pandangan pertama yang ada didepannya itu hanya ada sebuah taman yang berisi bunga bunga manis dan beberapa bangku kayu disana. Matanya menatap lurus kedepan jendela, entah apa yang ia fikirkan sehingga matanya tidak berkedip untuk beberapa menit .

“ kau harus menepati janjimu... “ kata itu terucap dari mulut Hye Jin, tak lama kemudian air matanya menetes dan mengalir kepipinya.


Eunhyuk POV

Mengapa perasaanku menjadi tidak karuan begini? Apakah aku menyesal dengan keputusanku sendiri? Ah tidak! Aku yakin aku bisa melupakannya dan menjalani hidupku dengan gembira. Sekarang ini ‘ia sudah pergi’ dan perasaan benciku sudah terbalaskan.

Aku duduk disofa sambil menatap lekat layar televisi yang entah aku tidak tahu apa yang sedang ditayangkan disana. Suara itu ternyiang-nyiang dikepalaku.
“hahaha .. kartun ini lucu sekali haahahahaa... “
aku menoleh kekanan- kiri . tidak ada siapapun disini, mengapa suara tawa itu muncul? Kini mataku tertuju pada sebuah remote berwarna hitam yang tergeletak disampingku.
“kembalikan remote itu! aku suka acara yang tadi!! ........ tidak ! aku ingin nonton kartun yang ini! .......”
suara itu muncul lagi, dan kini suaranya lebih keras dari sebelumnya. Aku terkejut mendengarnya, aku menggeser tempat dudukku sedikit lebih jauh dari remote itu.
“ apa yang sudah aku fikirkan ? suara itu? dari mana suara itu berasal? “ aku ketakutan dan mulutku gemetaran.


Aku menarik nafas panjang kemudian aku hempaskan, tiba-tiba aku jadi ingat dengan Hye jin. Bagaimana keadaanya sekarang? Apakah ia baik-baik saja? Terakhir aku dengar kabar tentangnya katanya ia gila dan dirawat dirumah sakit jiwa.

Aku bangkit dari sofa dan mengambil jaket kulit milikku yang ada gantungan pakaian. Aku keluar rumah sambil membawa mobil sport kesayanganku menuju rumah sakit jiwa tempat Hye Jin berada. Tetapi sebelum kesana aku menyempatkan diriku untuk mampir ditoko kue dipinggiran kota. Aku membeli kue beras karena aku tau Hye Jin sangat menyukainya.

------ rumah sakit-----------

“ Nyonya Hye Jin ada dinomor 696 “ ucap yeoja dari meja repsesionis. Aku membungkukan bahuku untuk mengucapkan terima kasih padanya.
“ gomawo.. “ ucapku sebelum aku pergi.
Akhirnya aku sampai didepan kamar Hye jin. Ruangan ini terdengar sepi berbeda dengan ruangan lainnya yang sangat berisik oleh suara tawa, teriakan bahkan tangisan yang begitu mengembu-gembu. Kubuka perlahan pintu besi yang dingin ini, begitu mataku masuk kedalam aku langsung menemukan Hye jin sedang duduk disebuah kursi menghadap jendela didepan sana.

“ Hye Jin... “ ucapku. Ia menoleh kebelakang secara perlahan. Aku berjalan mendekatinya.
“ akhirnya kau datang.. “ ia tersenyum manis padaku. Apa yang dia bilang barusan? ‘akhirnya kau datang?' Apa aku tidak salah dengar?
“ ne, oh iya aku membawakan ini untukmu.. “ kuberikan kue beras yang berukuran sedang ini padanya. Kubuka kotak ini dan menyodorkan kepadanya. Ia mengangkat tangannya dan mengambil satu biji kue ini. Aku jadi tersenyum melihatnya. Dimasukannya kue itu kedalam mulutnya dan mengunyahnya pelan. Setelah beberapa saat ia menoleh menatapku dan berkata.
“ kuenya enak , oppa “ ucapnya sambil memasangkan senyum manisnya padaku.
Aku benar-benar mendapat kejutan disini, dia memanggilku 'oppa'? Tidak biasanya. Setahuku dia hanya memanggil 'oppa' hanya kepada Donghae. Ya meskipun aku juga memang lebih tua darinya.
“ bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja disini..? “ tanyaku .
“ ne, aku baik-baik saja” jawabnya sambil mengangguk.

Aku merasa aneh, apa benar dia ini gila? Aku rasa tidak. Sikapnya seperti orang normal pada umumnya. Ya, meskipun aku memang tidak begitu mengerti dengan psikologi seseorang, tapi melihat keadaannya barusan ia seperti orang yang masih normal. Tapi memang jika dilihat dari penampilan dia memang sedikit berubah. Rambutnya yang lebih berantakan dan wajahnya yang jarang sekali tersenyum.


Hye Jin POV

Kau memang benar-benar menepati janjimu, kau datang menemaniku disini. Aku merasa kau jauh lebih tampan, wajahmu terlihat sangat segar. Tidak sepucat yang aku lihat kemarin.


Eunhyuk POV

“ baiklah, aku pulang dulu ya.. kau jaga dirimu baik baik “ ucapku sambil menepuk bahunya pelan. Dia hanya terdiam dibangkunya. Matanya masih saja menatap kearah taman disana. Tapi aku tau dia pasti mendengar ucapanku. Aku berjalan pelan menuju pintu besi yang ada didepanku. Begitu sampai disana, kubuka pintu itu perlahan. Langkahku langsung terhenti disana, dan perasaanku langsung berubah. Aku merasakan ada berdiri didepanku, ada sesuatu yang menahanku untuk berjalan keluar. Nafasku sempat tertahan selama beberapa detik kemudian langsung kukeluarkan cepat.

“ ada apa ini? mengapa aku merasakan aura yang sangat tidak enak disini? “ tanyaku dalam hati. Kupututuskan untuk berjalan kembali. Aku berjalan disepanjang koridor rumah sakit menuju tempat parkiran mobilku. Entah mengapa perasaanku jadi tidak enak. Kunyalakan mobilku kemudian aku pergi dari rumah sakit ini.
Disepanjang perjalanan perasaanku semakin tidak karuan. Aku merasa aura yang dingin dan menyekam disekitarku. Karena itu, kutambahkan kecepatan mobil ini agar cepat sampai kerumah.

Aku masuk kekamar sambil membanting pintu. Kuhempaskan tubuhku kekasur besar milikku lalu kututup rapat kedua mataku.
“ kau sahabat terbaikku Lee Hyuk Jae! “
Mataku langsung tebuka lebar. Suara itu, bukankah itu suara Donghae? Aku bangkit kemudian duduk dikasurku sambil menoleh kekanan-kiri. Tidak ada siapapun disini.
“ suara apa itu ? “ tanyaku.

“ aku menyayangimu Lee Hyuk Jae, kau juga menyayangiku kan? “
Lagi-lagi suara itu muncul dan kini suaranya terdengar semakin jelas ditelingaku. Aku semakin takut. Bagaimana mungkin aku mendengar suara orang yang sudah meninggal? Tidak mungkin, dia tidak mungkin kembali....

“ Lee Hyuk jae? “
Aku langsung mundur kebelakang. Donghae? Mengapa suaranya ada disini? Aku tidak menyadari kalau mulutku sudah gemetaran. Nafaskupun jadi tidak teratur. Aura disini semakin aneh, seperti ada yang mencengkamku sehingga sulit sekali bagiku untuk bernafas.

“ siapa kau?!! “ seruku.
“ ini aku.. Lee..... Dong... hae....”

DEG! Donghae!! Ah, tidak mungkin!! Mana mungkin dia ada disini.. itu pasti cuma khayalanku saja.. dia sudah meninggal. Benar, dia sudah meninggal. Tenangkan dirimu Eunhyuk, aku yakin ini hanya ilusimu saja.
Aku merasa seperti orang gila, berteriak-teriak sendiri didalam kamar. Ah, sepertinya aku harus tidur untuk mengistirahatkan tubuhku. Aku yakin aku pasti sedang kelelahan makanya aku seperti ini. 
Kutarik nafasku panjang lalu kubuang perlahan. Kubaringkan tubuhku dikasur ini kemudian kututup perlahan kedua mataku.


“ mengapa kau seperti orang yang ketakutan? Apakah kau tidak menginginkan kehadiranku disini? Apa segitu takutnya kah kau padaku? ada apa dengan mu Lee Hyuk jae?..................”


---- next day ---

Kubuka mataku perlahan. Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan kekamar mandi untuk cuci muka dan menyikat gigi. Aku berdiri didepan westafel, kubersihkan wajahku dari busa sabun wajah yang baru saja aku pakai. Setelah itu langsung menyikat gigiku. Tiba-tiba saat sedang menyikat gigi tanganku langsung terhenti dan mataku menatap tajam diriku dibalik cermin. Saat ini aku merasakan perasaan yang sangat aneh. Dadaku terasa berat, aku merasa seperti ada yang hilang. Tapi aku tidak tahu itu apa. Tanpa kusadari aku teringat dengan kejadian 15 tahun yang lalu.

‘’ sikat gigimu yang bersih Lee Hyuk Jae... “
“ berhentilah memangilku Lee Hyuk Jae, panggil aku Eunhyuk ! “
“ tapi aku suka nama aslimu.. “

Nafasku tertahan selama beberapa menit. Aku merasakan ada pukulan berat dari hatiku. Aku seperti ingin menangis.  Mataku sudah mulai basah dan mulutku kaku. Kuturunkan tanganku dan kubersihkan sikat gigiku dibawah air keran. Sedikit demi sedikit genangan air hangat mulai membendung dimataku. Tinggal menunggu saja kapan ia akan menetes.

‘’ air kerannya sangat dingin ya .... “
“ ia, aku jadi ingin berenang .. “
“ jangan Hyuk Jae, nanti kau sakit. Cuaca sedang dingin saat ini ... “

Tanpa kehendakku air mata yang sudah membendung akhirnya keluar juga membasahi pipiku. Aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Kakiku terasa lemas. Aku berlutut didepan westafel sambil menangis keras.

“ mianhae!! jeongmal mianhae!!! Aku minta maaf Lee Donghae !!! “ seruku dengan diiringi air mata.
“ aku sudah membuatmu pergi dari dunia ini... mianhae !! “ kataku lagi ... aku masih berlutut sambil berpegangan pada tiang westafel. Mulutku gemetaran dan tanganku mulai lemas. Aku menangis sepuasnya disini, aku merasa telah melakukan kesalahan yang amat besar dan tidak pernah bisa dimaafkan .



-to be cont-

Selasa, 08 Januari 2013

Because I love you (Part 2)



Part 2


cr: elisa

cast:
- Hye Jin (You)
- Lee Donghae





















- Lee Hyukjae (Eunhyuk)





********



*review part 1*

“DORR!!!“ Setiap kata dari mulutku tiba–tiba terhenti saat aku mendengar suara yang begitu besar barusan. Aku langsung menoleh kerarah dari mana suara itu berasal. Aku mulai panik ketika melihat lelaki berpakaian serba hitam dan dengan topeng berwarna hitam yang menutupi wajahnya lari dari semak semak disana. Ku teriakan nama Donghae, namun aku tidak mendapat balasan darinya. Aku mulai panik dan takut ketika aku mendengar suara rintihan seseorang yang mungkin tidak asing lagi ditelingaku.
"DONGHAEE!! DIMANA KAU?!! INI TIDAK LUCU!!!" Teriakku panik dan tak sengaja. Air mata itu mengalir begitu saja. Padahal aku tidak tahu apa yang sedang terjadi disini.


Biarkan aku bersamamu disini, di tepian pantai, Menatap indahnya dunia bila bersamamu. Biarkan aku bersamamu selama aku mampu untuk hidup.
Suara itu! JANGAN! 
Apa itu? Akupun tidak tahu. Tolong. Jangan buat aku khawatir. Aku hanya berharap. Berdoa kepada Tuhan....


*****


Bisakah kau rasakan sakitnya rasa itu? 
Bisakah kau mendengar jeritan kesakitan itu?
Bisakah kau melihat betapa sakitnya itu?
Aku bisa. 
Aku dengar. 
Aku lihat...
Dan tolong katakan...
Aku merasakannya

***

Hye Jin P.O.V

Tubuhku terpaku diam saat melihatnya terkapar diatas pasir putih sedang merintih kesakitan sambil memegangi dada sebelah kirinya yang kini telah dilumuri darah. Aku terkejut setengah mati, apa ini? Apa yang terjadi? Aku tidak yakin nyawaku masih disini, yang kurasakan, ketakutan itu menghampiriku. Menyapaku dan tersenyum. Aku langsung berlutut didepannya dan membantunya untuk berdiri. Ku ambil tangan kirinya untuk melingkari leherku sehingga memudahkannya untuk berjalan. Bahuku terasa berat, namun semua rasa itu langsung hilang dalam sekejap saat ku dengar suara rintihannya yang terdengar samar samar ditelingaku. 
“H..yee..Hyee..J..iin..“ kudengar suara itu. Suara sakit dari mulutnya. 
“oppa, kau harus kuat!“ pintaku. Tak kurasa air mata yang berharga itu menggenang di pelupuk mataku dan bergulir kewajahku. 
Tidak ada yang kupikirkan selain keselamatan Donghae saat ini. Yang ku inginkan dia selamat. Jantungku berdekup kencang. Aku takut kehilangan dirinya, aku takut kehilangan dirinya. 
Kalau aku bisa menukarkan posisiku di posisinya sekarang, tukarlah! Aku rela. 
"Kumohon Tuhan, selamatkan dia...“ seruku dalam hati. 
Aku menopangnya sampai kami tiba ditempat parkiran sepeda kami yang kini sedang berdiri cantik disamping sebuah pohon kecil dipantai itu. Kubantu donghae untuk duduk dibangku belakang. Aku cukup kewalahan untuk duduk mengingat saat ini aku masih mengunakan gaun pengantin yang panjangnya melebihi kakiku sendiri. 
Dengan bertelanjang kaki, ku gayuh sepeda itu dengan sekuat tenaga. Rasanya berat sekali, namun aku tidak patah semangat. Saat ini donghae tengah memeluk perutku dengan erat. Aku harap ia bisa melakukannya sampai kami tiba di rumah sakit. 
Cuaca tidak secerah tadi, matahari mulai bersembunyi dibalik tebalnya awan putih. Langit pun sudah tidak sebiru seperti tadi pagi. Kumpulan air hangat kini terkumpul dipelupuk mataku dan tak lama kemudian mereka jatuh membasahi pipi ku. Jujur, saat ini aku merasa takut. Takut sekali. Setiap detiknya aku merasa air mataku jatuh dan keluar dari tempatnya. Aku menangis sepanjang jalan. Rasanya aku tidak kuat untuk mengayuh sepeda ini karena aku merasa semuanya berat.
Aku menepi kepinggiran jalan, aku baru ingat mengapa aku tidak menelepon pak Kim sopir kami untuk menjeput ku dan donghae disini. Kuambil ponselku yang ada dikeranjang depan dan mengambilnya. Ku goes kembali sepeda ini sambil menekan nomor pak Kim. 
Langit mulai mendung, kini teriknya cahaya matahari benar benar hilang. Yang ada hanya bunyi gemuruh dari langit yang berteriak tiada henti. Tak lama kemudian, rintihan air menetes jatuh ketanah, semakin lama, air itu semakin banyak dan membasahi tubuhku. Aku mulai khawatir dengan donghae yang kini tengah diam tak bersuara. Pelukkannya sudah tidak seerat lagi. Dan hujan semakin deras membasahi kami. 


***

Author P.O.V

Ditengah perjalanan, Donghae melepaskan pelukannya yang sempat melingkari pinggang Hye Jin. Ia kedinginan, dan jantungnya mulai melemah. Matanya terbuka tutup dan bibirnya bergetar. Ia berusaha untuk tetap hidup, Namun, tak lama kemudian jantungnya telah berhenti berdetak, hembusan nafasnya telah berhenti dan matanya telah tertutup rapat. Yang tertinggal hanya wajah pucat pasi dan dada yang berlumuran darah tanpa ada jiwa disana.

***

Hye Jin P.O.V

Perasaanku menjadi tidak enak, ada rasa cemas didalam hatiku. Tubuh ku mengigil karena sedari tadi air hujan berhasil membasahi tubuhku. Aku merasa ada yang hilang, tapi apa? 
“Oppa“ Panggilku sambil menengok kebelakang walaupun tidak bisa melihat wajahnya.
Tidak ada sahutan, hening.... 
Kutundukan kepalaku, aku terkejut karena tangannya kini sudah tidak memelukku. Kuambil salah satu tangannya untuk melingkari pinggalku namun lepas kembali. Aku semakin panik karena mendapati tangannya yang begitu dingin seperti es. 
“Oppa!!“ seruku kali ini dengan suara yang cukup keras. 
Lagi lagi tidak ada sahutan darinya. Aku merasa lelah, tak lama kemudian sepedaku oleng kesamping dan jatuh menabrak aspal dijalan itu. Aku terjatuh dengan posisi lengan sebelah kiri menyandar diaspal. Kubalikan badanku kebelakang menginggat saat ini donghae sedang terluka. Mendadak aku seperti orang yang kerasukan jiwa. Bagaimana tidak, saat ini ia sedang terkapar diaspal dengan wajah pucat pasi. Kugerak-gerakan tubuhnya agar segera membuka kedua matanya.
“Oppa! bangun! buka matamu!“ seruku dengan mulut gemetaran karena kedinginan. 
Air mataku mengalir membasahi kedua pipiku. Tak lama kemudian aku sudah tidak sadarkan diri.

.......
....................

Kubuka kedua mataku perlahan, aku melihat cahaya terang didepan mataku. Aku melihat sekelilingku. Seperti berada disuatu tempat. 
“Nyonya sudah bangun?" ucap seorang ajjushi yang kini tengah berdiri disamping tempat tidurku sambil memandangiku. Dia adalah pak Kim. Aku diam dan hanya berkedip pelan untuk memberikan jawaban. 
DONGHAE !!! nama itu langsung muncul diotakku. 
“Oppa!!“ seruku yang langsung bangun dari tempat tidurku. Kulihat sekarang aku sudah tidak mengenakan gaun pengantinku lagi melainkan seragam berwarna biru muda. Aku langsung beranjak dari tempat tidurku namun langkahku sempat tertahan karena ada sesuatu yang menusuk tangan kanank. Infus? tanpa berpikir panjang kucabut jarum infus dengan cepat dan langsung pergi meninggalkan ruangan ini mencari dimana suamiku berada.
“Oppa!!“ seruku seperti orang yang kerasukan. Aku berlari disebuah koridor yang cukup panjang. Banyak sekali kamar disini. Lalu seorang yeoja menarik tanganku dari belakang sehingga membuatku berhenti berlari. 
“Kau sedang apa nona? Ada yang bisa saya bantu?“ tanya seorang perawat rumah sakit. 
“Suamiku!! dimana suamiku ?!“ jawabku yang tidak bisa tenang. 
“Siapa namanya?“ tanya perawat itu lagi.
“Ee...Donghae.. Lee Donghae..“ jawabku sambil menangis. 
“Sebentar yaa..“ perawat itu membuka buku yang ada ditangannya. Aku sangat panik, ku gigit bibir bawahku sambil diiringi air mata yang membanjiri pipiku. 
“Suami anda berada dikamar sebelah sana..“ ucap perawat itu sambil menujuk sebuah kamar yang berada paling ujung. Aku langsung berlari menuju kamar itu . ku buka pintunya dengan cepat dan ...................

Langkahku terhenti saat aku melihat seseorang tidur ditutupi kain putih yang menutup seluruh badannya. Kulihat ada appanya Donghae sedang memeluk istrinya yang kini tengah menangis. Aku juga melihat Eunhyuk juga ikut menangis namun tidak sehisteris eommanya Donghae. Kakiku terasa berat untuk berjalan. Ada apa ini?! Mengapa semua orang pada menangis? Aku berdiri disamping tempat tidur itu. Entah mengapa aku merasa lemas dan ketakutan. Tidak ada yang aku fikirkan, otakku kosong. 
“Hye jin.. kau harus kuat yaa..“ ucap Eunhyuk yang kini tengah berdiri disampingku. 
“a.. app..aa mak.sud..mu?“ tanyaku dengan nada terbata-bata. Mulutku bergetar ketakutan, mataku tidak lepas dari kain putih itu. 
“Donghae..“ Eunhyuk membuka kain putih itu secara perlahan, sekarang terlihat jelas wajah orang itu, orang yang kini tengah berbaring ditempat tidur itu dengan mata terutup. Wajahnya pucat, sangat pucat. Air mataku langsung keluar dari pelupuk mataku dan langsung membanjiri pipiku. Dadaku terasa sesak, sulit sekali rasanya untuk bernafas. Mulutku kembali bergetar dan air mata ini tidak bisa berhenti mengalir. 


Donghae P.O.V 

“Ada apa ini? Mengapa semua pada menangis? Eomma, Appa, Hye jin, Eunhyuk.. Ada apa dengan kalian?“ seruku yang kini tengah berdiri didepan pintu kamar ini. 
Aku berjalan menghampiri eumma yang tengah menangis. Tiba-tiba langkah ku terhenti saat aku melihat seorang pria yang tengah terbaring ditempat tidur dengan tenang nya. 
Apa yang aku lihat?!! Ada apa ini? Mengapa... Mengapa aku ada disana? Bukankah aku sedang berdiri disini?? Siapa dia? Mengapa mirip sekali denganku?!! Siapa dia!! 
Kakiku terasa lemas, Aku tidak kuat untuk berdiri. Aku berlutut sambil menunduk dilantai itu.
“Ada apa ini?! Ada apa denganku?!“ ucapku, air mataku mengalir lembut dipipiku. Aku takut. Sangat takut.


***

Hye Jin P.O.V

Aku berlutut disamping tempat tidur Donghae. Aku menangis dengan keras, Aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Eunhyuk ikut berlutut disampingku, ia mengelus elus bahuku dan memberikan nasehat untukku agar aku kuat. Namun hal itu sama sekali tidak berhasil.
“Aku ambilkan air minum dulu ya, tenangkan dirimu“ ucap Eunhyuk yang kini beranjak pergi. 
Aku masih menangis saat ini. Aku merasakan sesuatu yang berbeda disini. Kuangat kepalaku dan melihat sekeliling. Aku merasa ada yang menyentuh kepalaku, tapi tidak ada siapapun disini kecuali aku dan Donghae. Aku berdiri sambil memandangi wajah suamiku. Air mataku semakin mengalir deras. Kuambil pergelangan tangannya dan kugenggam erat. "Oppa, tanganmu dingin sekali. Apa kau kedinginan sekarang?“ Tanyaku sambil tersenyum manis diikuti air mata yang jatuh menetes ditangannya. 
“Oppa, kau harus memenuhi janjimu. Kau masih ingatkan?“ ucapku lagi.
Lagi lagi aku merasakan sesuatu yang aneh disini. Aku merasa ada yang menyentuh tanganku. Atau ini hanya perasaanku saja? Tapi.. Ini benar benar nyata... 


***

Author P.O.V

Ia sedang menangis disana, dipinggiran kolam ikan yang berada dirumah sakit itu. Ia meratapi apa yang kini sedang menimpanya. Ia merasa belum siap dengan keadaan ini. 

***

Hye Jin P.O.V

Aku diantar pulang ke villa, sesampainya disana aku langsung membanting diriku dikasur. Kupejamkan kedua mataku dan perlahan air mataku kini mengalir pelan . 
‘mengapa ini terjadi ? mengapa dengan cepat ia pergi meninggalkanku. mengapa semua orang yang kusayangi selalu pergi meninggalkan aku sendiri ? apa aku ini gadis pembawa sial? hahhaa .. yaa .. aku gadis pembawa sial. itu benar .. itu benar sekali .. 
Tuhan, aku harap semua ini hanya mimpi. mimpi belaka. Aku harap ketika aku membuka kedua mataku ia orang yang pertama yang aku lihat . 

Perlahan aku terlelap dalam alam bawah sadarku . mungkin karena aku terlalu lelah menangis seharian . aku lelah . sungguh . 

 ***

Donghae P.O.V

Aku berjalan menghampirinya yang kini tengah tidur dikasur ini . aku sedih melihatnya seperti itu . matanya sembab dan hidungnya memerah . aku duduk disampingnya sambil mengelus lembut rambut ikalnya itu . 
Aku berjalan keluar . aku duduk disebuah teras kecil yang berada dibelakang kamar ini . malam ini langit bergitu gelap , tidak ada bintang sama sekali disini . kupejamkan kedua mataku dan menikmati setiap hembusan angin yang lewat . yang terdapat dibenakku saat ini , siapa yang sudah melakukannya padaku ? dan mengapa ia melakukannya ?

***

Hye Jin P.O.V

Tiba tiba aku terbangun dari tidurku . aku merasa ada yang datang disini , seperti ada orang lain yang berada dikamar ini . aku berjalan melihat sekeliling , namun tidak ada siapapun disini selain diriku . aku pergi kekamar mandi namun tidak ada siapapun disana . hari ini aku merasa banyak kejangalan . ada apa denganku ? aku kembali berjalan menuju tempat tidurku . namun langkahku terhenti saat melihat seseorang disana . lelaki yang mengenakan jas hitam sedang duduk memandang langit . aku berjalan pelan menghampirinya . jantungku semakin tidak karuan . rasanya aku ingin menangis , dan air hangat itu kembali mengalir dipipiku . apa yang aku lihat saat ini ?!! benarkah itu dia .. dia datang . Donghae datang ... 

“ oppa ... “ ucapku pelan . dadaku sesak , sulit sekali bagiku untuk berbicara . 
Ia menoleh kebelakang , wajahnya , rambutnya , pakaiannya ... itu Donghae .. apa aku tidak salah lihat ?!! 
Mulutku terbuka dan mataku berkaca kaca . kakiku lemas untuk dilanjutkan berjalan . 
“ b.. been .nark..kkah ii..ini kk.aauu ?? “ 
“ ne . ini aku .. “ jawabnya sambil menujukan senyum manis yang menjadi ciri khasnya itu . 
Ia berjalan menghampiriku dan berdiri tepat didepan ku . 
Kutatap kedua matanya yang begitu lembut . kuangkat kedua tanganku karena ingin sekali menyentuh wajahnya . namun , tidak bisa . aku tidak bisa menyentuhnya . ada apa ini ??!! 
Mataku terbelak keluar saat kusadari aku tidak bisa menyentuh pipi nya . air mataku mengalir deras membasahi seluruh pipiku .
“ oppa .. ada apa ini ? “ tanyaku yang kini sedang berusaha untuk menyentuhnya namun tidak bisa . seperti menyentuh angin . tidak terasa sama sekali . 
ia tidak menjawab , melainkan hanya diam memandangi ku seperti menunjukan wajah penyesalan yang amat mendalam . 
“ oppa !! “ seruku yang masih berusaha untuk menyentuhnya walaupun tidak bisa . 

“ hye jin ! “ seru sesorang yang kini memelukku erat . aku menangis , aku menangis dalam dekapannya . bibiku sedang memelukku erat . ia mengelus – elus rambutku untuk membuatku tenang . 
“ donghae .. “ ucapku sambil menangis kencang . 
“ sudahlah , jangan sebut namanya lagi . ayo kita masuk . “ bibi merangkul bahuku sambil menuntunku menuju tempat tidur diujung sana . 
Bibi mengelus elus rambutku sama seperti apa yang sering eumma lakukan padaku dulu sebelum ia meninggal . aku merasa sedikit nyaman jika bibi sudah berada disampingku . namun mataku kini terpusat pada suamiku yang sedang berdiri didepanku , lebih tepatnya berdiri disamping bibi . aku tersenyum melihatnya yang kini tengah memandangiku . 

“ kau kenapa ? mengapa senyum senyum sendiri ? “ tanya bibi sambil memandangiku penuh tanya . 
“ itu bi , ada donghae disana . “ ucapku sambil tersenyum senyum . 

***

Bibi P.O.V

Keponakanku kenapa ? tadi , ia menyebut nama Donghae . Tuhan , ada apa dengan Hye Jin ? 
“ sudahlah , jangan berkata yang tidak tidak . “ ucapku sambil mengelus pelan rambutnya . 
“ ani .. benar bi , itu Donghae . lihat! dia sedang tersenyum padaku .. “ jawabnya sambil tersenyum manis . 
‘ yaampun , keponakanku ini kenapa ? barusan ia menangis tidak karuan . sekarang ia sedang senyum senyum sendiri . sampai segini kah ? ‘ 

....

Mentari telah terbit , sinar hangatnya mulai berpijak dibumi . pagi ini sangat cerah , udaranya pun terasa sangat sejuk . 
“ hahahaa ... “ 
Hye jin ! apa yang sedang ia lakukan ? mengapa ia tertawa sendiri ? aku berjalan cepat menuju kamarnya . hatiku merasa cemas mengingatnya tadi malam sudah berkata yang tidak tidak . 
“ Hye Jin .. apa yang kamu lakukan ? “ tanyaku sambil berlari menghampirinya yang kini tengah menari nari diatas kasur sambil memeluk guling berwarna putih . 
“ lalala .... lalalala ..... “ Hye Jin bersenandung sendiri . 
Aku semakin cemas , apa yang telah terjadi padanya . apakah dia sudah gila . ia berpakaian gaun berwarna putih dan menghias mukanya dengan asal mengunakan make Up yang ada dimeja kamar ini . kamar ini pun terlihat kotor , dinding penuh dengan coretan lipstic merah dan eyeliner . lantainya pun ditaburi bunga bunga yang sepertinya ia cabuti dari halaman belakang . 
“ Hye Jin , turun .. “ ucapku sambil meraih tangannya . 
Ia pun turun kemudian memelukku dan menangis . 
“ Bi .. “ suara rintihannya terdengar jelas dikupingku . aku tau saat ini ia sedang menangis . Hye Jin .. apa kau baik baik saja ? tidak , kau sedang tidak baik baik saja sekarang . 
Apa yang harus aku lakukan ? 


'Aku harap semua ini hanya mimpi buruk saja , mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan . dan ketika aku membuka mata , kaulah orang yang pertama kali aku lihat . dengan begitu kita bisa hidup bahagia selamanya .. Lee Donghae ....'


- To Be Continue -